Sabtu, 31 Mei 2008

Bapaknya Alissa Soebandono Jadi Dosenku

Selama ini memang banyak orang top yang jadi dosenku. Mulai dari mantan pejabat, sampai yang masih menjabat. Direktur inilah direktur itulah.

Tapi baru kali ini ada bapaknya artis yang jadi dosen gw. Ya, JP Soebandono, bapaknya Alissa Soebandono yang artis sinetron remaja itu, lhooo... (sok tahu deh gw*)

Awalnya kita gak ngeh. Soalnya doi biasa banget. tipikal bapak-bapak yang tinggal menikmati masa pensiun. Pinter sih, secara lama hilir mudik dan tinggal overseas... tapi siapa nyangka dia bapaknya artis.

Awalnya anak2 udah pada kasak kusuk. Tapi gak yakin gitu. Sampai akhirnya dia mengeluarkan statement:

"Memang tidak mudah berkomunikasi dengan orang yang berbeda paradigma dengan kita. Seperti saya dengan anak saya yang sekarang seorang artis. Dia pikirannya sudah beda dengan saya. Malah saya suka dibikin pusing jadinya kalau bicara," katanya sambil menepuk dahi.

Sontak anak-anak langsung kasak kusuk.
Bahkan
Sampai terderang ada suara cowok yang bilang "Oh, Ayah,"

Hihihihi..ampun deh.

(JP Soebandono ngajar People Management and Organizational Behaviour, Sabtu 31/5/2008)

Minggu, 18 Mei 2008

Kubawa Permen Untukmu


Di pertigaan wisma Antara, jam 9.30an

Rencananya sih menuju ke ESDM.
Di pertigaan, ada dua anak kecil yang lagi main2 ama ibunya. Aku langsung teringat, kalau punya 2 permen di dalam tas.

Terus, kuberikan 2 permen itu pada mereka. Sang kakak malu2 mengambilnya, dan langsung berlari ke si ibu.

Yang lucu, justru si adik yang nampak senang banget dan antusias dapat permen itu. Ia terus tertawa terkekeh kekeh padaku. Ia juga tidak lari seperti kakaknya, justru malah mengajak ku ngobrol. Ia sepertinya dengan giginya yang greges (ompong gak rata) ingin bercerita kalau ia senang banget dapat permen.

tapi apa daya, dengan umur yang sepertinya baru setahun lebih dikit, yan kedengeran cuma "Ayayayaya....tututu..ninini..menmenmen,"

Hahahahaha...gak ngerti, tapi lucu.

Besok, kubawakan lebih banyak, dik.

Sabtu, 17 Mei 2008

Duka Mba Canti

Gila, soal ujian Energy Evaluation of Energy Project ini susah banget (nyebut nama kuliahnya aja belibet).

Meski sudah ada bocoran sebelumnya, tetap aja mikir waktu mau nyalin.

Di tengah berpusing ria dengan soal-soal jahanam itu, mba canti yang disebelahku mendapat telp. Sambil terus mengerjakan ia menjawab telp itu.

Tiba-tiba,
"Apa?!"
"Kecelakaan?!"

semua menoleh ke arahnya, tapi kami dibuat tenag karena ia terus menegrjakan ujian.

Tak lama, ia keluar kelas untuk meneriman telp itu lebih jelas.
Ketika balik ke kelas, siapa sangka, wajahnya sudah bercucuran air mata.
Siapa juga yang nyangka, ia masih bisa tersenyum dan meminta tissue.
Pastinya gak nyangka lagi, ia tetap meneruskan mengerjakan ujian.

Belakangan, kita baru tahu, kalau ternyata dia baru saja dikabarkan kalau pamannya (kakak dari ibunya) mendapat kecelakaan dan dikabarkan meninggal. Ia pun pulang setelah dijemput keluarganya.

Dan setelah kelas bubar, kita baru tahu, kalau pamannya yang meninggal adalah Sopan Sopian yang menjadi headline berturut-turut di detikcom.

Berdasarkan pak KArtono, sopan sopian ini sudah deket banget ama keluarga mba canti. udah kaya bapaknya sendiri deh.

Anyway, Turut Berduka, ya mba Canti. Semoga beliau diberi tempat di sisiNya

Senin, 12 Mei 2008

Mama Kecetit

Sore, di ruang wartawan esdm, tante endang telp.

"Mama jatuh di tangga, kakinya kecentit," kira-kira intinya gitu.
"tadi sudah dibawa ke rumah sakit, tapi doketrnya gak ada. Sudah ke tukang urut juga, tapi kayanya tukang urutnya useless. Syaraf kaki nggak kepegang. Sekarang di rumah sama ade, nanti sore mau coba ke rumah sakit lagi,"

Magrib, telp mama
"Baru aja selese ke dokter. Kata dokter ga papa. ga usah khawatir. Cuma kakinya ga kuat menahan beban badan mama yang kegendutan. Disuruh diet,"

halah!@#$%^&*

Jumat, 09 Mei 2008

I hate them BUT I love them

beberapa orang di sekelilingku menyebalkan.

mereka adalah orang yang:

show up but actually don't have anything
sok pinter padahal basi
sok kenal padahal ngerecokin aja
suka nyuruh-nyuruh, ngomel2 tapi sendirinya nggak konkrit
ngebanggain dirinya dan kelompoknya padahal sebenarnya bapuk juga
ngejelekin orang lain padahal sendirinya nggak oke

gw benci orang2 kaya gitu,
tapi tetap gw merasa terhibur dengan kehadiran mereka supaya gw bisa bercermin,

"Amit-amit ya lih, jangan sampai deh kaya gitu...."

Malaysia, Here I Come

Salah satu obsesi gw tahun ini adalah ke luar negeri. And thanks GOD, gw dapat kesempatan liputan Goodyear di Malaysia.

Banyak banget pengalamannya secara baru kali ini gw di negeri orang. Tapi berikut yang bikin gw takjub:

1. Bersih. Bakal malu banget deh kalau buang sampah sembarangan.
2. Teratur. Kotanya diatur berdasarkan jenis daya tarik. Ada pusat bisnis, pusat pemerintahan, dll.
3. even OB and Cleaning Services, they can speak in 4 languanges! Melayu, English, Chinese. and India.
4. Motor masuk TOL?!!#$%^&*

But the most i dont like is : I think they are underestimate the Indonesian. when they know that actually I am Indonesian (i'm proud of it, Guys!), they act me like i never been there.

Hal serupa bahkan dilakukan petugas bandaranya.

"Mau kerja berapa lama?"
"Majikannya dimana?"

Pertanyaan kaya gitu dah yang harus gw layanin di airport. Tapi begitu gw bilang, " oh, i just come to visit your country for three days. I will back on Tuesday,"

Dia langsung kaget, dan bilang "Oh, on vacation ya?"

Langsung gw sikat aja dengan menjawab "No, i'm journalist. I come here by Goodyear's invitation,"
"Ohh....have a nice journey in Malaysia," ujarnya yang tiba-tiba penuh senyum mengembang....


Hohohohoho.....kena Kau!!!

Here are some fantastic exp



di kerajaan cokelat, Beryl's







Di KLCC, inside Petronas Tower, icon of Malaysia










Kalau ini di tamannya KLCC











Menyaksikan launching produk Goodyear di jembatan Wawasan






Wuuii...hhh.. melaju dahsyat di sirkuit F1 Sepang
.... Kapan lagi, nih...

Kamis, 20 Maret 2008

Polisi dan Sopir Angkot, mana yang lebih beradab?

lagi-lagi soal polisi dan angkot, sekarang kopaja.

kejadiannya malam hari sekitar 21.00, setelah liputan dr DPR.
di petigaan hotel mulia dekat kantor polisi, gw berlima nunggu taksi.
ada kopaja cukup penuh dengan penumpang entah kenapa nangkring di tengah tikungan dengan santainya. Padahal ada polisi yang lg ebrjaga

jelas polisi nyamperin, marah-marah, nunjuk-nunjuk, dan tau-tauu.....PRANG!!!!
polisi menghujam kaca sopir kopaja dengan tongkat tumpul yang digenggamnya.
Sopir Kopaja, penumpang, dan semua orang disitu kaget dan melongo, termasuk gw...
Kopaja pun menyingkir, penumpangnya berhamburan, dan si sopir mengampiri polisi yang juga tengah menghampiri kopaja.

si sopir mencoba memberi penjelasan:

"pak, tadi tuh ada penumpang yang lagi marah-marah, makanya saya berenti..bener deh...," kata sopir sambil memohon-mohon.
si polisi membalasnya dengan menarik kerah sopir, sambil nunjuk-nunjuk,
"Lu tau kan tadi tuh tengah jalan, minggir dong!!!" teriak polisi
"Ampun, pak...ampun pak..soalnya tadi ada penumpang yang marah..marah..," si sopir terus memohon.
"Lu gak usah alasan macam-macam deh, lu abis minum ka?! tau nih dari baunya!!!" si polisi berteriak tambah kencang.
"Ampun, pak...Enggak, pak...Beneran deh pak Ampuuunnn," Si sopir memohon makin gencar.

Ketika masih terpana dengan pemandangan yang hanya berjarak 4-5 meter itu, seorang teman membisikkan:
"Lihat deh, kakinya si sopir diinjek sama polisinya," bisiknya.

Ternyata benar, kaki pak polisi menginjak kaki si sopir sambil tetap menunjuk-nunjuk si sopir dengan tongkat nya. Gak tau apa maksudnya.

Gaklama, ada taksi yang menghampiri, dan kami pun masuk ke dalam taksi. dari dalam taksi, kami terus menoleh ke belakang, dan melihat pak polisi menyeret si sopir sampai beberapa meter, sampai akhirnya si sopir justru tersungkup dan memohon-mohon samil memeluk kaki pak polisi...
belasan orang yang tetap berdiri di sekitar situ hanya bisa berdiri menyaksikan tapi pura-pura gak tahu karena takut dan tak mau terlibat. seperti polisi lainnya yang acuh seakan tak terjadi apa-apa...dan seperti saya yang memilih pergi...

Polisi dan Sopir Angkot, mana yang lebih beradab?

Finally, I GOT HIM!












17 Maret 2008

Yes, Finally, I got Him!!

Itu yang pertama
gw sebut begitu keluar kantor pak Pur
Setelah mengajukan wawancara khusus sejak Desember 2007, baru deh kesampaian sekarang.
Meski wawancaranya gak khusus banget tapi bareng Reva dan pertanyaan yang gw siapin udah basi semua...tetep aja gw seneng banget!!

At least gw bisa bayar utang ke mba kokom (red) and mba irna (asred) soal janji gw wawancara pak Pur ini
Sebenernya gak dipaksa sih, cuma gengsi aja, udah minta surat pengantar segala, masa gak jadi.

Akhirnya setiap ketemu pak Pur, gw selalu nanyain. Mungkin dia bosen dan kebawa mimpi terus kaleee ya..hehehehe...

Sayang, gw kurang puas wawancaranya karena cuma dapat jatah 1 jam. Sayang juga dari detik gak ada yang nemenin, jadi gw kurang tahu, apa yang ingin ditahu pembaca detik.

But i have try my best, and i'm still starving to do it again...

Siapa, ya target berikutnya?
RI1 ? Boleh Juga....












Sabtu, 23 Februari 2008

Are U Lonely Enough?



Ika: I'm a wife, and they're just unmarried yet couple!





Fallen flower: At least I'm a independent flower now. I'm not depend on the tree's feed!





Fingers: Don't worry fellows, we're just fine...





Meta: Can't join? It's ok for me.

Best Collection




Foto ini keren karena diambilnya dengan posisi yang agak maksa, tapi bisa natural..di lift Grand Indonesia



Kalau yang ini keren karena gw diapit dua cowo..hehehe...di kasir Blitz..sempet2nya...

Ika and Reva : 2 Amazing Girls

Apa yang terjadi kalau Ika dan Reva bertemu?
Kejadia-kejadian gila pun terjadi.

Seperti yang terjadi waktu ulang tahun gw, kita nmakan-makan di Burger King.
Usilnya Reva kumat. Melihat ada topi ulang tahun gratisan nganggur, dia borong aja. Terus dia 'paksa' kami berlima (gw, reva, ika, novan dan mas kelik) memakainya.
Jadilah kami berempat (mas kelik gak mau) menjadi ratu-raja (bentuk topinya seperti mahkota)..

Wer're having fun. Meski awalnya sibuk masing-masing dengan beritanya. Then we ate, talked, laughed, sang and went crazy..


Setelah kenyang makan, kita sepakat untuk nonton di blitz
dan tiba-tiba ika melontarkan idenya.

"Berani gak make topi ini sampe Blitz?"

Gw dan Nopan langsung menggeleng dan buru-buru melepas topi kucluk itu. Cuma Reva yang menjawab

"Boleh,"

Dan jadilah mereka berdua memakai foto itu mulai dari bruger king Sarinah dan gayanya yang top abis...




Emang sih kita naik taksi, begitu sampai Grand Indonesia, mereka masih dgn pedenya make topi itu. sampai ada anak kecil yang mlogo ngelihat kelakuan mereka yang cuek abis.
Bahkan begitu sampai depan lift ada poster iklan baju, dan mereka berfoto-foto lagi...



lagi...



dan lagi...



Sampai di Blitz, mereka tetap setia menggunanakan topi itu..
Ika yang sibuk nyari uang kecil rupiah karena kebanyakan uangnya dalam yuan dan ringgit sisa gaji TKWnya dan tampang Reva yang pasarah karena harus nonton film yang sama untuk ketiga kalinya...



Begitu selesai bayar dan menyadari banyak orang yang ngelihatin mereka, baru deh sadar. "Ka, kan udah nyampe Blitz. Udah ya'" kata Reva memelas.. "iya nih, udah yuk," kata Ika...Ketahuan deh.....

Ika dan Reva.
Dua gadis (ups, ika udah gak gadis ya..) ini memang unik.
Dua-duanya super cuek, pede selangit, sekaligus sensitif. Bingung kan...
Ika sensitif sama hal-hal yan gberbau sosial dan detail. Misalkan dia bisa mencari hal-hal positif di tengah suasana yang gak enak. Misal kalau kena macet gara-gara kebanjiran, she just try to enjoy it. Dia juga sensitif kalau ada pengemis atau anak kecil yang ngamen.

Sementara Reva, dia sensitif kalau ada orang yang berkelakuan aneh. Misal kalau ada cewe yang bodinya seksi abis, dia pasti langsung nyeletuk, "gila bodinya. Kapan ya gw kaya gitu," atau kalau ada orang yang dadanannya aneh. "gak banget deh,"

Ika suka benda-benda vintage seperti baju-baju ibu atau neneknya yang sering dipakainya liputan, dan tetap bisa kelihatan fashionable di dia (itu yg gw ngiri. dia pake apa juga keren).
Sedangkan Reva suka benda-benda bermerek.She has parfume collection yang harganya mungkin lebih mahal dari gaji gw sebulan, kosmetik, koleksi baju dan aksesoris branded, sepatu, dll, dll. Tapi kerennya, dia orang yang sangat pemurah, royal, gak perhitungan, dan pantang banget ngeberatin orang. Seperti dia itu sering banget traktir gw, tapi susah banget ditraktir. Bahkan kalau naik taksi bareng, dia susah banget bayarin die. kan gak enak nebeng terus. But, dia sangat menghargai pemberian orang lain. Pernah gw cuma traktir dia es krim atau roti bakar, dia langsung berterima kasih dengan mata yang berbinar-binar dan senyum merekah.

Dear Ika and Reva, both of you are very unique. And i love u just like that.
Both Ika and Reva, keep going crazy and color my life. Both of your attitude bring so much learn for me.

Tapi sekarang Reva udah gak liputan lagi, jadi gak pernah ketemu lagi. Kalau biasanya gw sms reva acara pagi, reva forward ke ika. stlh reva gak liputan, gw pernah lupa sms ika acara liputan. maaf ya ka, it is not neceserry living life without Reva says "Gak banget deh,"...

Jumat, 08 Februari 2008

Gendut Mau Ujian, Yang Ribet Serumah

Si gendut, mau ujian masuk ITB. tapi disuruh belajar aja susahnya minta ampyun.
Semuanya mama yang ngurus, dianya mash bodo amat..

boro-boro belajar, disuruh ngisi form pendaftaran aja susah banget. akhirnya baru diisi menjelang mau berangkat ke tempat pengumpulan. baru berapa kolom yang diisi udah ngeluh pusing. karena matanya yang silinder, ditambah minus. kacamatanya udah gak cocok, jadi kliyeng kliyeng kalo harus ngelihat yang kecil-kecil... akhirnya terpaksa di stuntment sama si tante...

ini baru ngisi form, gimana kalau nanti ngisi ujian ya????







Gara-garanya apa lagi kalau bukan karena hobinya main game di komputer, play station, baca komik sambil tiduran, dll dll...

kalau udah nge game, gak ada yang bisa ganggu, kecuali makan dan buang air..
mandi lupa, beres-beres lupa, apalagi belajar, kelaut aja!!




Tapi sebenarnya dia pinter, cuma malasnya itu...ampu deh..
tapi semoga saja Allah mengijinkan kamu lulus dan dapat yang terbaik, ya de...

Sibuk Liputan? Tetep...Gaya...




Biarpun sibuk liputan, foto-foto tetap jalan. Bahkan dengan senang hati mengoptimalkan bakat para fotografer yang lagi nganggur. Seperti foto bareng reva n siti yang dijepret mas agus, humas PLN. dan foto bareng meta yang difoto mas taufieq, fotografer majalh tambang -kalo hak salah-.
Below are some my fav pictures
. Not the most, but represent how i thanks to god that let me to know them.















kalau yang ini fotografernya masih amatiran, mas deden dengan E90 nya. Hasilnya lumayan lah....

Pekerja Malam











Hidup ini memang kejam, bagi sebagian orang.
Larut malam bukan berarti tanda untuk beristirahat.
Langit gelap justru petanda bagi segelintir warga Jakarta untuk mulai mengais rejeki.
Meski badan sudah renta, melihat pun sudah pudar -apalagi dimalam hari-, dua lelaki yang saya temui di pinggir jalan dekat rumah menyadarkan saya.

Betapa Allah memudahkan saya dalam mencari rejeki. Saya bisa menjalani pekerjaan yang saya suka, yang memang cita-cita saya dari kecil. Kalaupun harus pulang malam, saya masih bisa menjalani dengan biasa saja. part of job. Imbalannya pun lumayan, tidak membuat pusing 7 keliling di akhir bulan. Dan yang pasti pekerjaan saya membuat saya lebih peka, lebih perhatian pada sekeliling saya -karena dituntut demikian- termasuk pada kedua bapak-bapak ini.

Yang satu adalah pemanggul bakul sekoteng yang terus berjalan mencari orang yang mau membeli dagangannya. Padahal sekoteng sekarang ini bukan makanan favorit dibanding fast food yang bisa delivery service.

Sementara yang satu lagi merupakan penjual sayuran. entah apa yang ada di benaknya kok dia menjual sayuran mulai malam hari, di pinggir jalan, sendirian (gak ada penjual lainnya), sayurannya pun cenderung sudah layu sehingga jarang yang beli.

Tapi tentu dibalik itu semua ada yang membuat setiap orang yang melihatnya malu. Terutama yang masih muda seperti saya, yang sering mengeluh karena pekerjaan. malu pada mereka yang masih bekerja tanpa mengeluh, atau karena tak ada pilihan lain, meski harus menerjang dinginya malam...

Brrrrrrrrrr.....
padahal baru turun hujan, dan kemarin baru banjir.....

PW -Posisi Wuenak-











Inilah aksi mas dadan di kursi redpel, dengan laptop redpel, di meja redpel, dengan gaya seperti redpel..hehehe

kaki nangkring memang posisi paling wuenak, itu jug ayang sering gw lakukan kalau di kantor. malah rasanya gak bisa mikir kalau gak nangkring.

Hehehe...posisi mentnukan prestasi

Sekolah Keringat Dingin











Namanya aja sudah bikin keringat dingin...
SBM Sampoerna ITB

Sumpah, deh. Semuru-umur nggak pernah kepikiran bisa masuk sekolah macam begini. Isinya? boohhh...orang kantoran semua..jadi setiap kuliah yang ada gw kelihatan banget orang lapangan.
Paling lecek, kucel, berantakan, awut2an..ampun deh..

Pertama ketemu mereka beneran panas dingin. Secara pinter2 semua..jadi minder, bisa gak ya nyeimbangin????

Tapi lama kelamaan, lucu juga.

Mereka memang cerdas cerdas. Tapi cerdas di bidang masing-masing. Sementara dikelas itu ada beragam orang dari bidang yang berbeda. Yang terjadi malah sering heboh karen sudut pandang yang berbeda.

Bayangkan, ada seorang geolog minyak berpengalaman berumur 55 tahun dan ada gw yang wartawan lulusan komunikasi yang baru 22 tahun. Ada yang VP Komatsu, perusahaan alat berat itu, ada ex pegawai microsoft, ada yang kerja di Bank, ada tukang listrik, ada yang bisa ngerjain akutansi sambil merem sementara yang lain merem melek. ada PNS, ada pegawai multi national company, ada pegawai BUMN, ada wiraswasta.

sampai kadang dosennya yang kelabakan karena muridnya heboh sendiri kalau diskusi... lebih heboh lagi karena mayoritas kelas diisi kaum cowok. Bayangkan, dari 37 siswa, perempuannya cuma 4 orang. Gimana gak berasa ratu. Tapi tetep, kalau urusan ngantri jatah makan siang, gak ada istilah lady first. yang ada siapa cepat dia dapat..

tapi kalau masalah solidaritas dan sensitivitas, kelas ini emang juara. pernah kami secara spontan mengumpulkan uang THR untuk OB yang bahkan jumlahnya lebih besar dari gaji gw...hikss

whatever, yang pasti kelas ini menakjubkan..alih-alih bikin grogi, kelas ini makin hari makin memotivasi, bahwa gwbisa mendapat yang lebih baik jika mau berusaha, belajar dan berdoa.
Amiiin..

Kerja di Media, HETRIK!!!
















kerja di media emang gak ada matinya, jam 12 malam pun masih banyak yang seliweran.
heran, pada nggak capek apa ya? Demi Detik Ini Juga? Ciee....

nb:memang ini bukan jam 12 malam teng, tapi dijamin, kalau kantor biasa pasti tingal satpam dan OB.

MetroMini VS Polisi


Jumat kira-kira dua minggu lalu,

Saya naik metromini menuju arah liputan seperti biasanya. Nggak penuh, cuma beberapa orang saja. Makanya si sopir dan kenek terlihat 'ngebet' banget menggaet penumpang. Sampai-sampai lampu merah tega diterobos dan nekad ngambil penumpang di tengah2 jalan persimpangan. Awalnya cuek, tapi tiba-tiba....

Priiiiiiiiiitttttttttt!!!!!!!!!!!

Sumprit pak polisi ternyata nyemrpit dari belakang. Si pak polisi naik mobil polisi sambil meemncet klaksonnya terus-terusan.berisik banget, deh.

Metromini pun dengan pasrah menyingkir ke tepi jalanan.

Uniknya, kalau tragedi penilangan yang sering saya lihat adalah pak polisi turun dari mobilnya, menghampiri mobil tersangka, memberi hormat dan mengintrogasi dsb dsb...

tapi khusus sekarang, si kenek yang turun dari metromininya, menghampiri mobil polisi, memberi hormat, dengan menyalurkan tangannya ke dalam mobil polisi.

setelah kenek balik ke metromini saya tanya:

saya: "dikasih berapa bang?"

kenek: " 10 rebu!" jawabnya kesal.

saya: "10 ribu? emang mau?"

kenek: "Yah..lima rebu aja biasanya mau, bu," katanya tertawa.

Mendengarnya saya dan beberapa penumpang geleng-geleng sampai tersenyum miris..
semoga hanya 'sedikit' polisi yang begitu....

tapi ditilang tidak membuat tim metromini itu jera. sesampainya di sebuah perempatan, si sopir didukung si kenek nekat menerobos pembatas busway agar bisa melenggang di busway yang kosong...

Saya dan penumpang kembali tergeleng-geleng..
semoga hanya sedikit angkutan kota yang begini...

Minggu, 06 Januari 2008

Cerita Teman Lama Yang Tiada Akhir

hari ini saya bertemu seorang kawan lama. dulu kami sering main bareng karen arumah yang berdekatan meski sekolah kami selalu berbeda. namun jarak makin memisahkan ketika usai SMU saya melanjutkan kuliah di purwokerto dan dia memutuskan langsung kerja.

"ngapain kuliah, ngabisin duit, mending kalau duitnya ada. Mendingan kerja, malah bisa ngehasilin duit," katanya.

saya tidak bisa berkata apa-apa saat itu karena memang keluarga dia bukan tergolong yang mampu sangat mampu secara finansial. ditambah lagi, tak ada budaya kuliah dari keluarganya secara turun menurun. dari empat kakaknya (dia anak bontot), semua langsung kerja begitu menyelesaikan SMA.

Singkatnya, saya kuliah di purwokerto dan dia kerja di sebuah hypermarket di jakarta selatan (sangat jauh dari daerah rumah kami di pulogadung). dia rela berangkat subuh jika kebagian shift pagi, atau pulang tengh malam kalau dapat shift sore.

sementara saya, bergulat dengan kuliah, diskusi-diskusi ala mashasiswa, kegiatan UKM (unit kegiatan mahasiswa, dan lain-lain.

Jauh berbeda dengan yang dialami teman saya itu.

Setiap bulan dia sudah punya penghasilan, bahkan menanggung biaya telepon dan listrik di rumahnya karena orang tuanya juga sudah mulai tua. Sementara saya, masih menengadahkan uang pada orang tua.

Kehidupan kami begitu berbeda, bahkan soal pacar. Sepanjang kuliah saya hanya pacaran dengan satu orang, emski saya kenal banyak lelaki. Sedangkan dia, tak terhitung berapa lelaki yang digandengnya. ada yang sekedar teman nonton, teman antar jemput, teman curhat, dll. orangnya pun beragam. ada teman selevel, atasan, atasan teman, teman atasan, temannya teman, orang yang kenal di jalan, dan banyak lagi. saya akui ia memang supel.

Sampai kira-kira di semester lima atau enam saya kuliah, ia menyatakan akan segera menikah. terus ternag saya tak begitu kaget. kaena setelah bertahun-tahun dia kerja, mungkin tak ada lagi yang dicarinya.

Dalam benak saya pun membayangkan calon suaminya minimal adalah teman kerjanya. keduanya sudah punya penghasilan tetap, dan bisa hidup mapan meski pas-pasan.

betapa kagetnya saya ketika tahu calon suaminya hanya seorang pengatar bunga yang gajinya sepertiga gaji teman saya itu. lalu saya tanya, kenapa dia ingin menikah dengan lelaki itu?

dia menajwab, "dia baik, mau nganter jemput gw berangkat dan pulang kerja. mau nganterin keman aaj meski sampai malam. belum ada cowok yang begitu ke gw. pengorbanannya lebih dari cukup," katanya.

kemudian ia melanjutkan," lagian, gw nyari apalagi sih, gw dah capek pacaran mulu. putus mulu. susah cari cowok yang baik. mumpung ketemu cowok gw ini, kayanya dia baik, ya udah, nunggu apa lagi,?" katanya santai.

saya hanya bisa mengangguk. tak bisa berkata apa-apa. tak mungkin saya membantahnya dan bilang "kayanya alasan itu aneh, gak cukup kuat,".
mungkin jika berada di posisinya, tidak ada lagi alasan yang lebih rasional.

dan akhirnya mereka pun menikah. dengan acara seadanya. tapi sepertinya mereka bahagia. sepertinya.

saya pun kembali ke purwokerto, kuliah lagi. setelah saya lulus, dan putus dengan pacar saya, saya kembali ke jakarta. saat itu teman saya ini sudah hamil. meski kami kembali bertetangga, tapi kami jarang bertemu.

sampai kemudian ia melahirkan, baru saya menemuinya, sebelum dan sesudah melahirkan saya menjenguknya.
mereka dianugrahi seorang bayi lelaki yang mirip ibunya.

beberapa lama setelahnya, tak sengaja saya bertemu dengannya usai membeli sesuatu dari warung. kemudian ia bercerita. bukan kisah gembira karena telah dianugrahi seorang anak lucu, melainkan kisah pilu mengenai tingkah laku suaminya.

ternyata sejak ia hamil tua, kondisi rumah tangganya sudah tidak harmonis. dan itu berlanjut hingga saat ia bercerita, bahkan lebih parah. saya menilanya begitu karena teman saya yang biasanya gempal, apalagi habis melahirkan, menjadi kurus hingga tulang lehernya menonjol.

suaminya ternyata lebih sering bermain keluar bersama teman-teman geng motornya. touriing ke luar kota hingg aberhari-hari. meninggalkan anak istri dan pekerjaannya. padahal sebagian pekerjaannya dibayar per hari tiap i amasuk kerja. alhasil pendapatan keluarga kecil itu berkurang.

tapi teman saya saat itu tidak mempermasalahkan uang, karena ia bekrja dan punya uang sendiri. justru karena punya uang sendiri dan sering ditinggal suami, ia merasa suaminya tidak menghargainya lagi. dirumah mereka jarang bertegur sapa, apalagi mereka masih tinggal di pondok mertua indah, tapi suaminya bahkan tidak pernah menegur mertuanya.

di saat harus menelan perasaan pahit itu, ia harus tetap mengurus buah hatinya, karena suami hampir tak pernah peduli. sampai-sampai ia menuturkan niatnya untuk cerai karena ia merasa bisa hidup sendiri. lebih lagi, selama ini ia merasa lebih banyak menipang keluarg kecilnya itu.

mendengarnya, saya hanya iba, tapi tak bisa bantu apa-apa. masa saya harus mencarin suami atau membantu memborgol si suami itu agar tidak keluyuran lagi? apalagi saya tidak bisa memberika nasihat-nasihat bagaiman sabar menghadapi suami untuk menjaga keutuhan keluarga. karena saya belum pernah punya suami atau berkeluarga. masa saya memberi nasihat yang belum teruji keabsahannya...

waktu pun berlalu, kami kehilangan kontak lagi, karena ia lebih sering berada di rumah mertuanya.

dan hari ini, kami bertemu kembali, makan bersama, bercerita kembali.

sebelum berangkat, saya menjemput ke rumahnya, melihat ia berpamitan dengan mencium sang suami, saya beranggapan masalahnya sudah selesai.

tapi saya tidak jadi menyimpulkan demikian setelah mendengar ceritanya lagi.

ternyata, saat dulu ia hamil dan suaminya sering berpergian, disebabkan karena teman saya itu sering kasar hingga main tangan. jika merasa kesal atau jengkel, ia kerap memukul dan menampar suaminya.

sementara, di tempat suami itu bekerja, ada seorang gadis yang justru sangat amat penyabar. di sinilah si suami mendapat ketenangan yang tidak didapat dari isitrinya. bahkan ternyata si gadis ini sudah punya pacar. namun si pacar gadis tipe lelaki yang tidak memperhaikan penampilannya. sehingga terlihat tua dan tidak gaya sama sekali. berlawanan dengan suami teman saya yang selalu gaya baik pakaian ataupun motornya meski tidak punya uang.

akhirnya kedua insan yang masing-masing sudah punya pasangan ini terbuai. hingga ada kabar mereka akan menikah di Bandung.

teman saya pun tak kuasa, menangis tiap saat, sampai-sampai pihak keluarga si suami mengultimatum anaknya untuk segera pulang.

menurut teman saya, saat didera masalah yang sangat berat itu ia bercerita dengan seorang temannya. temannya itu menyarankan teman saya untuk banyak sholat hajat dan meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh.

akhirnya, karena tak kuasa menahan malu, si suami pun keluar dari tempatnya bekerja, dan kembali ke keluarganya. istrinya, yaitu teman saya, jug amengintropeksi diri. tak pernah lagi ia marah-marah hingga memukul. jika merasa kesal, ia memilih diam atau tidur.

dan keluarga mungil ini pun kembali bersatu.

tapi ada satu masalah tersisa. hingga kini, sudah 3 bulan suaminya menganggur setelah keluar dari pekerjaannya dulu. mereka hanya hidup dari gaji teman saya yang tidak banyak itu. (kira-kira setengah gaji saya lebih sedikit). belum lagi, teman saya tetap harus menopang kedua orang tuanya yang sudah tidak kerja lagi. karena kakaknya tinggal jauh dari orang tuanya.

sebenarnya bukan tanpa usaha. teman saya pernah mencoba memasukkan suaminya di tempat ia bekerja. teman saya sudah berusaha menitipkan suaminya pada kenalan yang memang berwenang menerima pegawai. kenalannya setuju asal suami teman saya lulus tes.

hasilnya? dari 50 soal pengetahuan umum, dia hanya bisa mengerjakan 15 soal.

"otaknya pas-pasan," keluh teman saya.

dan kini, mau tak mau teman saya berjibaku dengan gajinya untuk menghidupi mulut-mulut yang harus ia kasih makan. saat teman saya bekerja, suaminya dengan manis duduk di depat play station menunggui anak mereka tidur. pulang kerja, teman saya harus memandikan anaknya, mencuci baju mereka, dan kerjan ibu-ibu lainnya. suaminya tetap duduk manis dengan mainannya. mau cari kerjaan lain, susah karen astatusnya yang sudah menikah dan punya anak. selain otak pas-pasan,pengalamannya pun minim, hanya tukang bunga.

"kalau dulu masalah hati, uang gak masalah. sekarang masalah hati selesai, uang yang jadi masalah,"

"laki gw tuh gak punya penghasilan, tapi gayanya selangit. dia gak ekrja tapi pengin motornya keren terus. boro-boro dia mikirn susu anak gw, yang dipikrin ban motor lah, oli motor lah. pusing gw," keluhnya.

"emang sih kata orang, yang namanya menikah kalau belum lima tahun, pasti banyak ujiannya. dulu laki gw kegaet cewe lain. sekarang malah ada cowo yang lumayan tajir, ngedeketin gw. dia malah nyuruh gw cerai, dan dia bersedia nerima gw dan anak gw,"

well,,,,gimana lagi ya babak kehidupannya?

Yang suka baca blog ini: