eng ing eng...
Kali ini bakal cerita tentang pengalaman makan fine dining. Sebenarnya sudah beberapa kali ikut acara yang mengharuskan makan fine dining. Tapi gak ada yang well prepared, secara dulu ikutnya pas lagi liputan jadi tetep pake jeans dan kaos hihihi...
Pertama kali makan fine dining pas liputan kunjungan Pangeran Phillips dari Inggris ke Indonesia. Pas ada Luncheon Talk. Yang dateng pada pakai jas dan dress.. kita rombongan wartawan tetep dengan seragam kebangsaan doong yah. jeans dan kaos berkerah, syukur2 kemeja hihihi.. Tapi waktu acara itu gak nyaman lantaran kita duduknya gak bareng-bareng sesama wartawan. Jadi pas itu ekye dapet duduk bareng tamu-tamu formal. Jadinya ya canggung gitu. Obrolannya juga gak nyambung. Makanannya standar hotel, enak dg bumbu seadanya. Rasanya gemes pengen tambahin lengkuas sama sereh hahaha.. Mana gak jadi minum anggur, karen jilbaban, jadi gelas wine nya langsung diangkut waitress. qiqiqi
Pengalaman kedua, di hotel bintang lima, pas sudah masuk ke perusahaan sekarang dan menghadiri acara awarding dari salah satu lembaga marketing. Kalau yang ini lebih enjoy karena gak ada tuntutan kerja, cuma dateng undangan doang. Tapi kudu jaga kelakuan krn satu meja sama bos-bos ekye. Makanannya lebih enak, mungkin karena tamunya Indonesian semua, jadi chef nya lebih berani kasih bumbu kali ya. Steaknya empyyuukk, bumbu nya lebih kerasa.. enyak enyak..
Nah, yang ketiga itu kemarin. Pas kami menjamu tamu dari negeri timur tengah. Kalau sebelumnya jadi tamu, skrg jadi organizernya. dan ketemulah de soematra ini atas rekomendasi dari salah satu teman. Berikut reviewnya ya.
Tempat
Tempatnya cuaaannttiikkkkk.... Gedung restoran de Soematra ini merupakan salah satu gedung yang menjadi warisan budaya di Surabaya. Uniknya mereka tidak pasang plang di depan gedung karena konsep restoran ini adalah private resto for public. Jadi orangnya yang datang makan kesitu memang orang yang niat. bukan tamu yang kebetulan lewat terus mampir. Jadi memang sudah siap dari sisi pakaian maupun dompet hehehe... kata marketingnya sih untuk menjaga kenyamanan semua tamu.
Bentuknya seperti rumah yang terdiri dari beberapa ruang. dan setiap ruang memiliki berbeda. Ada yang library room, ada bar, dan ada grand dining room. ada juga ruang tamu dg sofa sofa empuk untuk ngopi teh ngobrol.. juara pokoke..
gambar dari web de soematra.
Cantiiikkkk kaann...
Makanan
Makanannya enak, tapi gak sampai yang bikin nangis yaa..
Karena kita makan set menu, pas awal lihat porsinya langsung nyinyir.. ih pelit amat. Tapi pas dijabanin semua makanan set menunya... astagaa kenyang wasainyang.. alhamdulillahh...
Set menu waktu itu.. seingetnya yaa.
1. Roti
2. Salad
3. Sup kacang merah
4. Bola ijo (lupa namanya) yang ada gambar diatas itu - makanan transisi dari sup kacang merah yg kental ke main course yg berat. Ini makanna paling unik hehehe, bola ijonya itu dari es, bingung gimana bikinnya. tapi didalamnya ada sorbet, kaya es krim tp kasar.. endaangg
5. Main course - nasi kebuli dg sate kambing. Sambelnya juaaraaa
6. Dessert - coklat coklat coklat. Gak tahu namanya, tp enyyaakk
So overall, yang paling berkesan dari tempat ini adalah tempatnya yang memberikan pengalaman tersendiri yg unik. Mau banget makan disini lagi kalau ada yang traktir, karena harga sangat sangat tidak terjangkau (oleh saya).
5.
Jumat, 13 September 2013
Jumat, 06 September 2013
Welcome back
Alhamdulillaaah...
Akhirnya bisa ngeblog lagi..
Setelah wira wiri kesana kemari, akhirnya bisa punya waktu dan mood untuk nulis di blog
padahal selama ini banyak dapat inspirasi dan cerita seru dari blogger blogger lainnya..
Semoga.. bisa nulis lebih banyak ke depan..
Ada banyak cerita yang mau ditulis, terutama tentang rumah baru. Semoga oh semoga bisa nulis lebih banyaakk ameeenn
Akhirnya bisa ngeblog lagi..
Setelah wira wiri kesana kemari, akhirnya bisa punya waktu dan mood untuk nulis di blog
padahal selama ini banyak dapat inspirasi dan cerita seru dari blogger blogger lainnya..
Semoga.. bisa nulis lebih banyak ke depan..
Ada banyak cerita yang mau ditulis, terutama tentang rumah baru. Semoga oh semoga bisa nulis lebih banyaakk ameeenn
Jumat, 25 Januari 2013
Perencanaan Memiliki Rumah
Saya bukan pakar keuangan, apalagi konsultan finansial.
Tapi saya mau berbagi mengenai pengalaman saya dan suami dalam mempersiapkan anggaran untuk properti pertama kami, yaitu rumah hunian.
Ini tips dari orang awam seperti saya, yaa..
1. Tentukan jenis propertinya, mau rumah, apartemen atau ruko (bagi yang punya usaha). Pilih yang bener-bener disuka, dan dipertimbangkan plus minusnya. Jangan sampai nyesel di kemudian hari. Misalkan sudah terlanjur pilih apartemen, terus ngeluh "kok kecil yaa,, gak bisa punya banyak barang, gak punya halaman juga".
Atau sudah pilih rumah hunian "capek juga ya beresin dan bersihinnya,,coba di apartemen ajah, kecil dan ringkes".
*ngomong sama kaca*
2. Budget
Ukur kemampuan finansial kita sendiri dan pasangan. Terutama untuk membayar cicilan KPR ke depannya. Kecuali kalau ada yang udah punya duit, terus mau bayar cash.
Cara mengukur kasar kemampuan cicilan versi saya adalah
(Gaji Kita + Pasangan) - Cicilan Utang Berjalan > Estimasi cicilan per bulan
3
Jadi gaji kita plus pasangan jika joint income, dikurangi kewajiban bayar utang yang sedang berjalan harus lebih besar dari 3 kali lipat estimasi cicilan per bulan. Ini perhitungan safe, termasuk jika ada kejadian yang tidak diinginkan seperti tiba-tiba kehilangan pendapatan, masih ada spare utk bulan berikutnya.
3. Lokasi, lokasi, lokasi
Pilih lokasi yang :
a. masih bisa dijangkau dari tempat kerja (tergantung kesiapan jasmani dan rohani ya),
b. multi akses (jadi kalau ada hambatan di satu akses, ada alternatif lain)
c. Suasana sreg (kalau ada yang suka ramai jangan pilih tengah sawah, kalau yang suka sepi jangan pilih deket pasar ya)
d. Proyeksi masa depan (sukur-sukur kalau kita bisa tahu proyeksi ke depannya lokasi itu bakal gimana. misalkan akan dibangun akses tol, atau akan ada mega proyek. ini tentu akan meningkatkan nilai investasi)
e. Dekat dengan kebutuhan (misalkan sekolah anak, pasar, minimarket, RS, dll)
4. Pilih Pengembang yang dipercaya
Bisa dilihat dari berapa banyak perumahan yang sudah dibangun, bonafiditas kantor pemasarannya (makin bagus kantornya, berarti proyeknya banyak yang sukses yah, hehehe), tanya-tanya, browsing, dll. Atau dites dengan mengecek berapa banyak bank yang jadi rekanan KPR nya. Kalau banyak bank yang mau jadi rekanan KPR nya, berarti memang banyak yang percaya, yah.. #awam.
5. Mutu bangunan dan Desain
Setelah faktor di atas terpenuhi, yang kami lihat adalah mutu bangunan dan desainnya. Suami akan ngecek jenis material bangunan yang dipakai, mulai dari kualitas batu bata , keramik, genteng, dll. Saya? lihat desainnya aja deh =)) Saya suka desain yang terbuka. Jadi antara ruang tengah, ruang makan dan dapur kalau bisa tanpa sekat, sehingga kesannya lega. Dan akan sangat senang sekali kalau bisa naruh kitchen set favorit saya..
6. Investasi
Not but not least. Propek masa depan. Fakta membuktikan, harga rumah tidak pernah turun, malah terus meningkat. Rumah yang saya beli ini sudah naik Rp 15 juta dalam 3 bulan. Mana ada investasi kaya begitu kan yah? jangan lupa juga dikaitkan dengan poin nomor 3.d. Proyeksi masa depan akan sangat menentikan nilai investasi hunian kita.
Ini juga yang membuat kami memutuskan untuk membeli rumah daripada membeli mobil terlebih dulu, karena harga mobil pasti turun kan...
Nah, jika kita punya beberapa pilihan yang meragukan, bisa dibuat dalam matriks nilai berdasarkan kategori diatas. Pastinya tidak ada hunian yang dapat nilai 100 untuk setiap poin diatas. namun kita bisa tentukan prioritas.
Setelah ketemu rumah impian, terus gimana?
1. Pastikan kita ketemu marketing yang bisa dipegang (komunikatif, proaktif, bertanggungjawab). Kalau ketemu yang kurang oke, kontak atasannya (managernya), atau cari marketing yang lain.
2. Pastikan kita punya cukup uang untuk DP. Dalam kasus saya, DP juga bisa dicicil, dan berdasarkan perhitungan future income, akan nutup sesuai waktunya. Jadi DP juga gak harus sekali bayar, tapi bisa dicicil dengan ketentuan dari developernya. Kalau punya rejeki lebih, mending bayar DP lebih besar, sehingga beban KPRnya lebih sedikit dan mengurangi beban biaya bunga.
3. Mitra KPR
Setelah kita ada perjanjian dengan developernya, kita akan diminta mengumpulkan dokumen2 yang akan dicopy dan dimasukkan ke beberapa bank sbg proposal KPR. dokumennya antara lain surat nikah, KTP, slip gaji, KK, buku tabungan 3 bulan terakhir.
Berdasarkan pencarian kami selama 4 bulan, berikut plus minusnya:
- banyak yang merekomendasikan BT* karena memang spesialisasinya dibidang kredit perumahan. Namun berdasarkan pengalaman saya, itu marketingnya sssssuuuuuusssaaaahhhh bannngeett dihubungi. Padahal marketing bank-bank lain sampe ngejar2 supaya ambil kredit di banknya. Ini malah cuma hubungi sekali ngasih tahu kita lolos verfikasi, tapi abis itu kita tellp mau tanya-tanya malah gak bisa dihubungi dan tidak menghubungi kembali. Ya sudah, sapa butuh ?!! *&^%$#@
- Mengambil KPR dari bank yang sama dengan payroll gaji kita akan menjadi poin tersendiri bagi kita dimata bank nya. Verifikasinya dimudahkan, karena kelihatan setiap bulan memang kita digaji sekian dan aktivitas perbankannya terecord :)
- Jangan termakan promo. Promo memang menarik, terutama bunga flat. Tapi biasanya, bunga flat rendah di tahun2 pertama akan dibebankan ke tahun2 berikutnya setelah promo sdh tidak berlangsung lagi.
4. Siapkan dana realisasi KPR
Ini adalah duri dalam daging. Setelah asik menghitung-hitung cicilan DP dan estimasi cicilan KPR,jangan lupa hitung biaya realisasi atau akad kredit. ini terjadi cuma sekali, tapi nilainya cukup bikin sakit perut.
Ada banyak komponen dalam realisasi KPR. Pajak, provisi, asuransi, angsuran perdanan, dll, dll, dlll buuaaannnyaaakk banggeett....
Total jenderal, siapkan saja anggaran 25 juta. kalau mau aman lagi 30an juta. sesak napas? sama.
5. Selesai? Beluuummm...
Setelah realisasi KPR, bukan berarti kita tinggal santai tunggu rumah jadi terus langsung nempatin. Yup, kita harus siapkan anggaran untuk pindahan, beli furniture baru atau sekedar finishing rumah.
Karena kami berencana memindahkan semua furniture di rumah kontrakan sekarang ke rumah di Klaten (disana juga lagi bangun rumah), dan menukarnya dengan furniture baru idaman, jadi memang harus siap budget khusus.
Apalagi dengan pertimbangan kualitas, waktu tahan lama dan fungsionalitas, kami memilih semua perabot rumah primer (yang penting2 kaya set ruang tamu, tempat tidur, lemari, dll) dibuat dari Jati. Pesan khusus dengan desain minimalis yang kita suka. dan rencananya disemua perabotan itu diberi simbol keluarga kami *berkahayal*. Kebetulan di kampung suami di Klaten ada pengrajin Jati (made by order) yang bagus tapi murah =))) yeeaaay *joged* selisih harga bisa setengah dengan di Surabaya..
Terus harus siapin berapa untuk sesi ini? Belum tahu, soalnya belum hitung, dan duitnya juga belum ada, hahahaha..
Gak tahu deh, semoga ada hujan duit bentar lagii.. *amien*.
Semoga cita-cita kami terwujud menuju Rumah Jati Idaman :)
Rumah kami yang baru jadi tembok, sebelah rumah contohnya.. Mohon doa restunya atas pembangunan rumah kami ini.. *sodorin kaleng sumbangan*
Tapi saya mau berbagi mengenai pengalaman saya dan suami dalam mempersiapkan anggaran untuk properti pertama kami, yaitu rumah hunian.
Ini tips dari orang awam seperti saya, yaa..
1. Tentukan jenis propertinya, mau rumah, apartemen atau ruko (bagi yang punya usaha). Pilih yang bener-bener disuka, dan dipertimbangkan plus minusnya. Jangan sampai nyesel di kemudian hari. Misalkan sudah terlanjur pilih apartemen, terus ngeluh "kok kecil yaa,, gak bisa punya banyak barang, gak punya halaman juga".
Atau sudah pilih rumah hunian "capek juga ya beresin dan bersihinnya,,coba di apartemen ajah, kecil dan ringkes".
*ngomong sama kaca*
2. Budget
Ukur kemampuan finansial kita sendiri dan pasangan. Terutama untuk membayar cicilan KPR ke depannya. Kecuali kalau ada yang udah punya duit, terus mau bayar cash.
Cara mengukur kasar kemampuan cicilan versi saya adalah
(Gaji Kita + Pasangan) - Cicilan Utang Berjalan > Estimasi cicilan per bulan
3
Jadi gaji kita plus pasangan jika joint income, dikurangi kewajiban bayar utang yang sedang berjalan harus lebih besar dari 3 kali lipat estimasi cicilan per bulan. Ini perhitungan safe, termasuk jika ada kejadian yang tidak diinginkan seperti tiba-tiba kehilangan pendapatan, masih ada spare utk bulan berikutnya.
3. Lokasi, lokasi, lokasi
Pilih lokasi yang :
a. masih bisa dijangkau dari tempat kerja (tergantung kesiapan jasmani dan rohani ya),
b. multi akses (jadi kalau ada hambatan di satu akses, ada alternatif lain)
c. Suasana sreg (kalau ada yang suka ramai jangan pilih tengah sawah, kalau yang suka sepi jangan pilih deket pasar ya)
d. Proyeksi masa depan (sukur-sukur kalau kita bisa tahu proyeksi ke depannya lokasi itu bakal gimana. misalkan akan dibangun akses tol, atau akan ada mega proyek. ini tentu akan meningkatkan nilai investasi)
e. Dekat dengan kebutuhan (misalkan sekolah anak, pasar, minimarket, RS, dll)
4. Pilih Pengembang yang dipercaya
Bisa dilihat dari berapa banyak perumahan yang sudah dibangun, bonafiditas kantor pemasarannya (makin bagus kantornya, berarti proyeknya banyak yang sukses yah, hehehe), tanya-tanya, browsing, dll. Atau dites dengan mengecek berapa banyak bank yang jadi rekanan KPR nya. Kalau banyak bank yang mau jadi rekanan KPR nya, berarti memang banyak yang percaya, yah.. #awam.
5. Mutu bangunan dan Desain
Setelah faktor di atas terpenuhi, yang kami lihat adalah mutu bangunan dan desainnya. Suami akan ngecek jenis material bangunan yang dipakai, mulai dari kualitas batu bata , keramik, genteng, dll. Saya? lihat desainnya aja deh =)) Saya suka desain yang terbuka. Jadi antara ruang tengah, ruang makan dan dapur kalau bisa tanpa sekat, sehingga kesannya lega. Dan akan sangat senang sekali kalau bisa naruh kitchen set favorit saya..
6. Investasi
Not but not least. Propek masa depan. Fakta membuktikan, harga rumah tidak pernah turun, malah terus meningkat. Rumah yang saya beli ini sudah naik Rp 15 juta dalam 3 bulan. Mana ada investasi kaya begitu kan yah? jangan lupa juga dikaitkan dengan poin nomor 3.d. Proyeksi masa depan akan sangat menentikan nilai investasi hunian kita.
Ini juga yang membuat kami memutuskan untuk membeli rumah daripada membeli mobil terlebih dulu, karena harga mobil pasti turun kan...
Nah, jika kita punya beberapa pilihan yang meragukan, bisa dibuat dalam matriks nilai berdasarkan kategori diatas. Pastinya tidak ada hunian yang dapat nilai 100 untuk setiap poin diatas. namun kita bisa tentukan prioritas.
Setelah ketemu rumah impian, terus gimana?
1. Pastikan kita ketemu marketing yang bisa dipegang (komunikatif, proaktif, bertanggungjawab). Kalau ketemu yang kurang oke, kontak atasannya (managernya), atau cari marketing yang lain.
2. Pastikan kita punya cukup uang untuk DP. Dalam kasus saya, DP juga bisa dicicil, dan berdasarkan perhitungan future income, akan nutup sesuai waktunya. Jadi DP juga gak harus sekali bayar, tapi bisa dicicil dengan ketentuan dari developernya. Kalau punya rejeki lebih, mending bayar DP lebih besar, sehingga beban KPRnya lebih sedikit dan mengurangi beban biaya bunga.
3. Mitra KPR
Setelah kita ada perjanjian dengan developernya, kita akan diminta mengumpulkan dokumen2 yang akan dicopy dan dimasukkan ke beberapa bank sbg proposal KPR. dokumennya antara lain surat nikah, KTP, slip gaji, KK, buku tabungan 3 bulan terakhir.
Berdasarkan pencarian kami selama 4 bulan, berikut plus minusnya:
- banyak yang merekomendasikan BT* karena memang spesialisasinya dibidang kredit perumahan. Namun berdasarkan pengalaman saya, itu marketingnya sssssuuuuuusssaaaahhhh bannngeett dihubungi. Padahal marketing bank-bank lain sampe ngejar2 supaya ambil kredit di banknya. Ini malah cuma hubungi sekali ngasih tahu kita lolos verfikasi, tapi abis itu kita tellp mau tanya-tanya malah gak bisa dihubungi dan tidak menghubungi kembali. Ya sudah, sapa butuh ?!! *&^%$#@
- Mengambil KPR dari bank yang sama dengan payroll gaji kita akan menjadi poin tersendiri bagi kita dimata bank nya. Verifikasinya dimudahkan, karena kelihatan setiap bulan memang kita digaji sekian dan aktivitas perbankannya terecord :)
- Jangan termakan promo. Promo memang menarik, terutama bunga flat. Tapi biasanya, bunga flat rendah di tahun2 pertama akan dibebankan ke tahun2 berikutnya setelah promo sdh tidak berlangsung lagi.
4. Siapkan dana realisasi KPR
Ini adalah duri dalam daging. Setelah asik menghitung-hitung cicilan DP dan estimasi cicilan KPR,jangan lupa hitung biaya realisasi atau akad kredit. ini terjadi cuma sekali, tapi nilainya cukup bikin sakit perut.
Ada banyak komponen dalam realisasi KPR. Pajak, provisi, asuransi, angsuran perdanan, dll, dll, dlll buuaaannnyaaakk banggeett....
Total jenderal, siapkan saja anggaran 25 juta. kalau mau aman lagi 30an juta. sesak napas? sama.
5. Selesai? Beluuummm...
Setelah realisasi KPR, bukan berarti kita tinggal santai tunggu rumah jadi terus langsung nempatin. Yup, kita harus siapkan anggaran untuk pindahan, beli furniture baru atau sekedar finishing rumah.
Karena kami berencana memindahkan semua furniture di rumah kontrakan sekarang ke rumah di Klaten (disana juga lagi bangun rumah), dan menukarnya dengan furniture baru idaman, jadi memang harus siap budget khusus.
Apalagi dengan pertimbangan kualitas, waktu tahan lama dan fungsionalitas, kami memilih semua perabot rumah primer (yang penting2 kaya set ruang tamu, tempat tidur, lemari, dll) dibuat dari Jati. Pesan khusus dengan desain minimalis yang kita suka. dan rencananya disemua perabotan itu diberi simbol keluarga kami *berkahayal*. Kebetulan di kampung suami di Klaten ada pengrajin Jati (made by order) yang bagus tapi murah =))) yeeaaay *joged* selisih harga bisa setengah dengan di Surabaya..
Terus harus siapin berapa untuk sesi ini? Belum tahu, soalnya belum hitung, dan duitnya juga belum ada, hahahaha..
Gak tahu deh, semoga ada hujan duit bentar lagii.. *amien*.
Semoga cita-cita kami terwujud menuju Rumah Jati Idaman :)
Rumah kami yang baru jadi tembok, sebelah rumah contohnya.. Mohon doa restunya atas pembangunan rumah kami ini.. *sodorin kaleng sumbangan*
Langganan:
Postingan (Atom)






