Hampir setahun saya menginjakkan kaki di Surabaya, kota yang tidak pernah ada dalam benak saya untuk menjadi kota domisili. Sejak awal, saya sudah terkesan dengan kota yang apik dan resik ini. Kota yang lengkap dan teratur,. Sebuah Jakarta mini yang diidam-idamkan.
Begitu juga dengan pekerjaan saya. Awalnya saya tidak tahu menahu tentang bidang yang saya tangani. Buta tentang administrasi dan aturan yang harus dilewati. untungnya curiosity tinggi dan muka tebal yang saya punya bisa membantu dalam menghadapi semua.
Sungguh, saya terpukau dengan kehidupan di Surabaya ini. Kotanya, orang-orangnya, dan kehidupannya.
Saya belajar banyak sekali di sini. Bertemua dengan berbagai kalangan orang. Mulai dari yang kurang pintar sehingga kita harus berkali-kali menjelaskan dan memastikan step by step yang kita minta dikerjakan hingga champion-champion yang terlahir di sini.
Champion.
Bagi saya, champion bukan orang yang sukses dan menonjol di tempat yang sudah besar. Namun champion bagi saya adalah orang yang bisa tetap eksis, tetap bekerja dengan standar yang tinggi meski bekerja di tempat terpencil sekalipun.
Saya punya teman, seorang Sales Representative yang bertugas di daerah yang terpencil. Lingkungannya memang bukan sangat dinamis seperti Jakarta/Surabaya, namun dia tetap bisa memperatahankan standar pekerjaannya, bahkan terkadang di atas saya yang bekerja di Surabaya.
Sahabat.
Saya memang jadi kurang berinteraksi dengan sahabat-sahabat di Jakarta. Namun disini, saya bertemu dengan banyak orang yang senasib. Saya masih mending, masih dikunjungi suami. Teman-teman saya yang masih single bahkan sampai kadang tidak tahu mau ngapain, mau ke mana dengan siapa. Nasib serupa ini lah yang mengikat kami sebagai perantau =)
Bekerja konkrit
Bekerja di kantor, dengan segala administrasinya memang penting. Namun merealisasikannya langsung di lapangan, itu jauh lebih penting. bertemu masyarakat, membawa nama perusahaan, untuk itulah saya dibayar.
Yahhh... pokoknya saya menikmati Surabaya, the Sparkling Surabaya..
Seperti saya menikmati kota-kota sebelumnya.. Mengecap Cilacap dan Menggarang Semarang. Sekarang saya Terperdaya Surabaya :)
