You are what you eat. Ungkapan ini mungkin ada benarnya kalau digunakan sebagai tool untuk mengukur perubahan hidupku (perubahan makan-lebih tepatnya).
Mari kita seksamakan...
Waktu jaman SMP, salah satu makanan termewah yang sulit terjangkau bagiku adalah siomay keliling seharga Rp 1.000 per porsi. Mengapa sulit terjangkau? Maklum, perceraian orang tua waktu aku kelas 6 SD membuat perekonomian keluarga sempat morat marit. Mama yang tiba-tiba jadi single parent harus rela menjual beberapa benda berharganya demi bayar sekolah 2 anaknya dan sekedar beli beras.
Kabar kondisi kami yang lumayan memprihatinkan ini ternyata sampai ke telinga mbah putri yang di Tegal. Ia (kabarnya) menangis tak tega dan langsung mengirimkan sekarung beras fresh panen. Hehehe...makasih ya mbah.
Jadi, siomay keliling yang biasa dibeli teman2ku setiap hari itu hanya bisa kubeli seminggu sekali. Itupun setelah mengumpulkan Rp 200 per hari. Pernah ada orang tua temanku yang kasihan dan kerap memberi uang jajan lebih ke anaknya sambil berpesan 'ini titip buat Alih, buat beli Siomay ya'. Hehehehe...
Sekedar informasi, uang jajanku saat SMP 'mencapai' Rp 3.000 per hari. Rp 1.000 untuk angkot bolak balik, Rp 2.000 buat makan. Habis deh.
Saat menanjak ke bangku SMA, kondisi perekonomian keluarga kami pun kian membaik seiring menguatnya rupiah, kokohnya IHSG dan SBI yang mendukung. Uang jajan pun dengan sukses mengalami kenaikan menjadi Rp 5.000.
Signifikan? Tidak. Karena meskipun uang jajannya naik, tapi harga makanannya juga lebih mahal. Angkot saja naik dua kali lipat dari Rp 500 menjadi Rp 1.000. Tapi setidaknya siomay yang dulu hanya bisa dibeli seminggu sekali kini bisa dinikmati lebih sering. Namun saat siomay keliling itu sudah tidak nge-trend bagi anak SMA macam aku, godaan seperti mie ayam yang semangkok Rp 3.000 ternyata lebih dahsyat.

Saat kelas tiga, seiring dengan makin banyaknya tuntutan bimbel dan les LIA, todongan kenaikan upah pun makin tajam. Kini aku bisa menggenggam Rp 11.000 per hari yang mana harus cukup untuk transport rumah-sekolah-bimbel/LIA (2 kali angkot)-rumah (2 kali angkot). Sisanya, harus dibagi-bagi untuk jajan di istirahat jam 10, makan siang dan makan sore. Fiuh... receh demi receh pun terasa amattt berharga....
Beranjak kuliah...angin surga mulai terasa. Bagaimana tidak, aku kuliah di Purwokerto yang semua harga makanannya sangat amat bersahabat dengan kantong anak kuliahan. Dengan upah Rp 500.000 per bulan, aku sangat amat bisa ongkang-ongkang kaki -bahkan bisa membuka koperasi simpan pinjam- di tahun-tahun pertama. Dengan Rp 500.000 per bulan, setelah dikurangi pulsa Rp 100.000 dan biaya perintilan kuliah Rp 50.000, jatah per hari bisa mencapai Rp 11.500-an. Padahal, dengan uang Rp 3.000 saja aku sudah bisa melahap nasi plus ayam. Ditambah lagi ada inovasi bernama wedang hik, yang menyediakan nasi kucing seharga Rp 700 per bungkus. nyam...nyam...

Tapi itu hanya bertahan di tahun- tahun pertama. Di tahun ketiga menjelang keempat, tuntutan kenaikan upah mulai terasa. Desakan kenaikan harga (godaan lebih tepatnya) makin merajalela melalui berbagai jenis makanan seperti nasi padang serba Rp 5.000, nasi goreng naik jadi Rp 4.000, dll. Upah dari kerja sambilan jualan burger, magang di LSM dan jadi teller BNI pun lenyap entah kemana. Apalagi kebutuhan untuk perawatan motor dan pengerjaan skripsi pun tak tanggung-tanggung. AKhirnya, disetujuilah proposal kenaikan upah dari Rp 500.000 menjadi Rp 900.000 per bulan. Yiippppiiee...
Setelah lulus kuliah dan uring-uringan karena jobless selama kurang lebih 1,5 bulan, aku pun mencicipi pekerjaan pertama sebagai reporter di Tabloid Info Kecantikan dengan gaji awal Rp 400.000 (tapi kemudian setelah komplain karena tidak sesuai dengan kesepakatan, ditambahin Rp 300.000-masih di bawah standar sih, huh-). FYI, Tabloid Info Kecantikan satu group dengan Peluang Usaha, Peluang Kerja, dll.
Gaji awal yang cukup bikin jantung senut senut mengingat jarak kantor-rumah harus ditempuh 2,5-3 jam (pulang pergi 5-6 jam). Kantor di Fatmawati dan rumah di Pulogadung. Tak ada busway, pilihan satu2nya adalah Patas yang sesak dan jalur yang padat berisi.
Pada masa-masa ini, makanan yang termasuk mewah adalah tumis ceker yang di jual di tenda trotoar depan kantor seharga Rp 9.000 per porsi. Jadi kalau lembur deadline (2 minggu sekali) aku suka pesen ini. Rasanya...uenakkk....

Aku tak bertahan lama di redaksi ini. Selain masalah gaji dan jarak yang menguras tenaga, nampaknya keahlianku memang bukan di bidang kecantikan. Selain itu, kebetulan aku diterima di detikcom, the biggest Indonesian online news, kata temenku. Akhirnya, setelah 1,5 bulan di Tabloid Info Kecantikan, aku pun hijrah menjadi reporter ekonomi di detikFinance, salah satu kanal detikcom di bidang ekonomi.
Apakah aku lebih piawai di bidang ekonomi ketimbang kecantikan? sama sekali tidak. Pembelajaran tentang APBN, produksi minyak, lapangan2 gas, satuan-satuan energi harus dilampaui dengan peluh keringat dan tetes air mata. lebay.
Tapi keringat dan air mata itu terobati dengan kenaikan upah yang sangat signifikan. Detikcom membayar reporternya dengan sangat baik (dibandingkan sebelumnya). Upah pokok Rp 1 juta (selama kontrak disimpan 20%, dikembalikan setelah jadi pegawai tetap), tunjangan operasional Rp 600 ribu, dan pulsa Rp 200 ribu. Belum termasuk klaim-klaim ojek dan taksi. Gimana gak kipas-kipas pake duitt.....
Perubahan paling nyata tentu terlihat dari apa yang biasa kumakan. Kalau dulu tumis ceker pinggir jalan jadi makanan termewahku, kini tiap ada waktu lenggang aku dan kawan2 reporter lain singgah di Pizza Hut atau tempat ber-AC lainnya. Gayaa.... Padahal dulu, mencicipi Pizza Hut bisa jadi ritual beberapa bulan sekali.

Ekspansi makanan pun terus berkembang pesat. Hingga tahun kedua aku di detikcom, ekspansi makananku sudah mencapai resto-resto di mal-mal besar Jakarta. Sebut saja Pancious, Tekwan, Rice Bowl, dll. Mencicipi makanan-makanan lucu itu bisa kujalani setidaknya 2 minggu sekali. Biasanya sekali makan menghabiskan Rp 30.000-50.000. Untuk makanan harian, perutku sudah terpuaskan dengan sup daging (Rp 15.000) atau gado-gado (Rp 7.000).

Namun perjalanan hidupku ternyata tak terhenti di detikcom. Agustus 2009 aku resign dari detikcom lantaran diterima di Pertamina yang konon katanya perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di Indonesia. Correct Me If I am Wrong.
Mulai Agustus sampai Oktober aku menjalani proses pembekalan di asrama. Dilanjutkan dengan magang kerja sejak November hingga kini. Apa perubahan signifikan? Tentu saja makanan yang kusantap.
Kalau dulu aku menjumpai resto-resto di Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Pacific Mall, dll paling banter 2 minggu sekali, kini berubah total. Resto-resto itu seringkali menjadi lahan makan siangku. Bayangkan saja, sekali makan siang aku bisa merogoh kocek hingga Rp 35.000 hingga Rp 50.000. Arrrggghhh...meskipun ada kenaikan upah, tapi tetap saja aku belum terbiasa merelakan uang segitu untuk sekedar makan siang.. Mau jadi apa kantongku esokk???

FYI, upahku saat magang kerja (OJT) di Pertamina adalah Rp 3 juta (dipotong pajak jadi Rp 2,899 juta). Lumayan jauh dari upah terakhir di detikcom yang sudah lebih dari Rp 4 juta. Tapi aku harus bersabar karena sejak awal diiming-imingi upah kalau jadi pegawai tetap. Rp 7,5 juta belum termasuk tambahan2 lainnya (SPD, bonus, dll).
Bayangkan! Mau kuapakan uang itu nanti kalau dari sekarang tidak terbiasa membelanjakannya???!!!!!