Sabtu, 26 November 2011

My Leader, My Teacher

Saya baru saja menamatkan membaca kilat bukunya Dino Patti Djalal berjudul Harus Bisa. Intinya, buku ini merupakan ekspresi kekaguman Dino kepada Presiden SBY, terutama tentang gaya pemimpinan SBY.

Terlepas dari kata-kata yang berbunga untuk mendeskripsikan 'keunggulan' SBY dalam memimpin, Dino juga lumayan detail mendeskripsikan betapa jadi Presiden itu tidak mudah. -Makanya heran kok banyak orang yang berebut jadi Presiden-

Kurang tidur, difitnah, penuh tekanan, dll.. Kalau saya sih terimakasih banyak deh, mendingan bobo-bobo sama suami daripada harus ngebahas politik dalam dan luar negeri sampe jam 4 pagi.
*Ya... ini menjelaskan kenapa saya tidak mau (dan tidak bisa) jadi Presiden yah* hehehehe....

Buku ini menyadarkan saya, bahwa menjadi orang yang berada di posisi puncak atau di level yang lebih tinggi dari saya sekarang, sungguh tidak mudah. Dan alhamdulillah, ini memotivasi saya.

Sejak dulu, sejak masih liputan di media, saya sering kesal pada atasan yang ngomel kalau saya kecolongan berita. Saya sering menganggap atasan saya itu tidak paham kondisi lapangan. Saya juga sering menganggap kalau atasan saya pasti kerjaannya enak karena cuma di kantor, kena AC, terus upload berita.. *ya, ya, ya, saya masih labil saat itu*

Tapi begitu giliran saya yang naik ke posisi itu, baru deh ngerasain. Walau adem kena AC sepanjang hari, tapi ternyata tekanan utk dapat berita lebih besar. Pokoknya berita gak boleh kosong. Padahal, kalau kebanjiran berita juga bingung, karena setiap berita yang naik harus diedit dan direview, jadi dituntut cepat, cepat, dan akurat. fiuh...

Sekarang, alhamdulillah saya sudah sadar...hehehe... sekarang saya sangat menghargai para bos-bos saya.. I do repect them deeply due to their integrity, consistency dan loyalty.

Kebetulan, sejak pertama kali bekerja setelah lulus, atasan langsung saya semuanya adalah Perempuan. *Entah pada kemana para lelaki itu* Terlepas dari konfontrasi, beda pendapat, dan hal-hal tidak sreg lainnya, mereka sukses memberi contoh ke saya tentang integritas, konsistensi, perfection dan loyalty. they are my inspiring leaders.

Pertama ketika kerja di media. Redaktur saya perempuan yang pekerja keras dan tangguh. No one beat her desire to perform the best. Walau sempat dibikin nangis pada seminggu awal bekerja, dia mengajari saya untuk pantang menyerah.

Kedua, ketika saya masuk BUMN saat ini dan ditempatkan di fungsi yang masih berhubungan dengan media. Kebetulan atasan saya juga berasal dari media. Cantik, cerdas dan tegas. Dia memperlihatkan keseimbangan antara business-organization-friendship relations. Meski banyak orang yang tidak senang kepadanya -dalam office politic, jangan berharap bisa disenangi semua orang*, secara konsisten, ia memperlihatkan kemampuannya di atas kerabat selevelnya.. stunning.

Ketiga, atasan saya sekarang saat saya pindah lokasi kerja di unit. Meski menangani scope pekerjaan level regional, ia selalu mencoba utk perform selevel nasional -bahkan internasional-. Darinya, saya belajar untuk tidak puas dan tidak berleha-leha atas apa yang sudah kita miliki sekarang. Integritasnya terhadap pekerjaan dan perusahaan bahkan membuat saya sampai menahan napas. Namun perlahan, saya memahami bahwa bekerja dan berusaha keras, pada akhirnya bukan saja bermanfaat bagi perusahaan atau orang di sekililing kita, tapi juga untuk kita sendiri. Karena dengan menembus batas maksimal diri dalam berusaha, artinya kita menembus level baru kapabilitas diri yang semakin tak terbatas.


Those are few things that learned from those stunning ladies..
Someday, hope i will be in the same level or even beyond them...

Tetap Bangga

Tetap bangga. Itu perasaan saya ketika menonton final Indonesia-Malaysia dalam ajang Sea Games kemarin.

Saya memang bukan pengamat sepak bola, tapi sebagai Indonesia-games-only-viewer, saya juga ikut deg-degan melihat final bola Sea Games kemarin.

Walau kalah di adu pinalti, namun pasukan Garuda Muda ini memperlihatkan kualitas permainan yang lebih membanggakan dibandingkan performance sepakbola Indonesia beberapa tahun lalu.

Dan semoga ini jadi modal agar lebih baik ke depannya *amieen*

gambar dari ww.tribunews.com

Rabu, 02 November 2011

Belajar Melayani dan Dilayani

Sebagai konsumen jasa layanan publik, saya terbiasa dilayani.
Tapi berhubung saya juga kerja di perusahaan pelayanan publik, maka harus melayani.

Dilayani dan melayani, sekilas dua hal yang berbeda. Karena biasanya kita menjalani 'status' tersebut dalam dua kondisi yang berbeda. Tapi, bagaimana kalau kita mencoba menyandang dua gelar itu sekaligus?

Sebuah cerita, dalam perjalanan dinas beberapa waktu lalu di Mataram, saya berniat kembali ke Kota Pahlawan, Surabaya. Tiket sudah ditangan, pesawat Wings Air (operator Lion Air) flight schedule jam 19.40 WITA. Dijadwalkan sampai di Surabaya jam 20.00 WIB.

Karena Bandara Internasional Lombok yang baru ini sangat jauh dari lokasi acara (dan dari peradaban Mataram), maka saya memastikan diri untuk berangkat sangat amat lebih awal. Dan berkat bantuan teman-teman di Depot Ampenan, saya berhasil sampai di BIL sekitar pukul 18.00 WITA atau 1,5 jam lebih awal. Hati tenang, aman, pikir saya.. Setidaknya saya memenuhi kewajiban sebagai konsumen Wings Air untuk datang tepat waktu (tidak terlambat minimal ya..).

Hati tetap tenang sampai saya masuk tempat check ini, dan melihat segerombolan mas-mas, bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang bergerumul mengerubungi seorang petugas. Dari baju seragamnya, itu petugas Lion Air.

"Ono opo iki..." pikir saya sambil mendekat ke gerombolan dan mencoba menguping..

Dari samar-samar yang terdengar sih, mereka lagi protes kenapa delay, sampai kapan delaynya, bagasi yang sudah masuk bagaimana, kompensasi, dan lain-lain.. waduh, waduh, waduh... kalau sampai protes begini seperti gawat. Saya pun mulai ikutan panik..

Kemudian saya tanya ke bapak-bapak yang mukanya sudah frustasi, "Ini flight yang kemana ya Pak?"
"Jakarta, mba," huff..langsung lega lagi hati ini..
"Harusnya kita berangkat jam 5an tadi, tapi katanya delay sampai malam, ada yang bilang jam 11 malam, padahal saya ada acara malam ini di jakarta, sudah terlanjur janji dan tidak mungkin dibatalin, duh gimana ini...!!!" cecar bapak itu. Mungkin ia tak sadar lampiasan kekesalannya itu membuat jawabannya panjang lebar..

Dengan hati lega, saya pun menuju counter check in ke Surabaya. Untungnya, sepi, tidak ada gerombolan, cuma ada mba-mba manis yang melayani.

"Surabaya, mba" ujar saya percaya diri.
"Gak pake delay kan, kaya yang ke Jakarta," tambah saya.

Eh, mba-mba nya kok langsung mesem-mesem... nah lo...

"Yang ke Surabaya informasinya delay juga mba," kata si mba..

"Sampai kapan?" tanya saya

"Informasi yang kami dapat, untuk jadwal mba yang seharusnya 19.40 menjadi 21.00" jelasnya

*telen ludah*

"Oh, ya sudah mba. Masih untung bukan jam 11 kaya yang ke Jakarta" ucap saya..

Saat itu jam 18.20 WITA, masih sekitar 2 jam 40 menit menuju penerbangan yang dijanjikan.

"Cukuplah buat muter-muter cuci mata dan perut di toko-toko bandara" pikir saya.

Eh, dilalahhh yaa... berhubung ini bandara baru yang jauh dari mana-mana, jadi jam 18.0 WITA pun toko sudah banyak yang tutup biar pegawainya pulang gak kemaleman.. cuma tinggal 2-3 toko yang buka.

Ya sudahlah, saya menepi ke lounge. Lounge yang masih harus bayar cash -karena belum ada fasilitas card-. Dan ternyata tamunya hanya dua orang. Seorang mba yang pesawatnya juga delay dan saya. sesuatu banget yahh..

Gelandang gelundung di lounge sendirian, baca ini itu biar kaya orang pinter, nonton Asian Food Channel *teuteup* dan makan tentunya.. gak sadar udah jam 20.00 WITA. dan ternyata sudah waktunya lounge itu tutup.. mari kita menyingkir kalau begitu..

Begitu keluar lounge, ternyata semua toko udah tutup juga..bingung kemana, turun lagi ke bawah, kali ada warung kopi buka. Angkringan juga gapapa deh.. *di Mataram getho, loh...*

Eh,, dibawah ternyata lebih ramai dari yang tadi.. Gerombolannya makin meluas, yang protes makin banyak dan ungkapan kekesalannya makin variatif. Ada yang teriak, ngomel, tunjuk-tunjuk, ada juga yang duduk lemes di pojokan..

Nguping lagi aahhh...

Dan ternyata, jelas aja pada kesel. karena penerbangan Lion Air yang ke Jakarta, yang semula dijanjikan jam 11 ternyata di cancel. penumpang akan diinapkan dan diberangkat besok dengan pesawat paling pagi. Oh iya, nginapnya di Mataram kalau gak salah, sekitar 1 jam perjalanan dari bandara. Tapi kalau tidak salah, Lion juga memberikan pilihan jika mau terbang malam ini tapi transit dulu di Surabaya.

Alasan delay: Operasional.

Ada sih kusuk-kusuk karena cuaca yang buruk karena sempat hujan lebat. Rasanya, alasan ini justru lebih rasional, komunikatif dan realistis untuk disampaikan ke konsumen. Dengan key message "keamanan" tentu konsumen juga tidak bisa berkutik. Konsumen tentu cukup cerdas untuk memilih :terbang dengan kondisi cuaca buruk atau menunda penerbangan hingga besok pagi.
Kalau saya sih pasti pilih menunda terbang saja. Tapi itu kalau saya. Saya bukan konsumen Lion Air yang penerbangannya di cancel (saya cuma delay 2 jam), tidak harus ketinggalan meeting penting malam ini dan tidak harus menjalani ekstra malam di mataram (1 jam dr bandara).

Sebenarnya, saya cukup paham, sangat paham malah, kenapa konsumen-konsumen L*o* Air itu marah, kesal dan kecewa. Sudah bayar sekian ratus ribu, dengan ekspektasi bisa sampai tempat tujuan dalam 2 jam ke depan, namun tiba-tiba saja di cancel. Perusahaan penerbangan bisa saja memberikan ganti rugi 100% atas harga tiket dan kompensasi makan + inap. Tapi mereka tidak bisa mengganti waktu berkumpul dengan keluarga, meeting dengan klien yg barangkali utk proyek miliaran rupiah, atau sekedar rencana liburan.

Berada di tengah kondisi tersebut, saya jadi terbayang konsumen BBM di SPBU. Mungkin ini rasanya ketika konsumen sedang buru-buru beli BBM, tapi ternyata SPBU nya kosong. Stok BBM habis. *tepok jidat*

Padahal, mungkin saja ada konsumen yang sedang buru-buru mengejar meeting, ada yang sudah janjian dengan anaknya, ada yang mau ujian atau ada yang sedang sakit hendak ke dokter. Pada saat seperti itu, tentu konsumen juga tidak mau tahu apa pun alasannya, SPBU tidak seharusnya kosong. Karena SPBU dan BBM adalah bagian dari pelayanan publik.

Padahal, kita tahu ada berbagai macam penyebab SPBU kosong. Mulai dari jalanan yang macet sehingga truknya terjebak sampai karena pengusahanya yang belum punya uang untuk menebus DO BBM. Kan sekarang sistemnya, you bayar, you punya barang. hehehe...

Yang pasti, Pertamina tidak pernah secara sengaja membuat publik antre bermeter-meter untuk mengantre BBM. Tim suplai & distribusi sudah pontang panting mengirim BBM ke SPBU saja masih diprotes kalau kirimannya telat tak sengaja, apalagi kalau BBM sengaja dikosongkan. *cari mati*

Demikian juga L*on Air, mana mungkin dia sengaja meng-cancel penerbangan ke jakarta malam itu. Sudah diomeli, nama/image perusahaan runtuh, harus keluar duit utk kompensasi lagi. Pokoknya kondisinya juga tidak mengenakan. Rugi bandar, istilahnya.

Karena itu, saya langsung berempati pada Lion Air. Diluar saya tepok tangan utk revitalisasinya, tidak ada satu pun perusahaan layanan publik komersil yang berniat sengaja mengecawakan konsumennya. Jika memang ada kejadian tak terduga pun, mereka pasti berusaha sekuat mungkin untuk menjaga agar image dan citra perusahaan tidak merosot terlalu jauh melalui beragam kompensasi utk masyarakat.

Intinya, mari kita belajar sebagai konsumen yang tak hanya dilayani namun juga berempati pada yang melayani.

Minggu, 23 Oktober 2011

learning and loving each other




















My Marrrige Life is so GREAT!!

Ya eya lah, sapa lagi yang bakal muji kalo bukan gw sendiri.

We were married on March 5, 2011 in Depsos Building. Its not my dreamed wedding party, but my mom's. Yeah, dimana-mana kalo kawinan emang acaranya ortu, bukan si mempelai, hehehe..

We (me and him) finally married after 4 years of long distance relationship. Setelah menempuh jalan yang panjang dan berliku, cie ilehh.. *terpengaruh sinetron*
Apalagi mengingat kalau sebelumnya gw sebelumnya pacaran ama cowok yang notabenenya sahabat kita berdua. Ya udahlah ya hai, gw udah semacam such a bit*h mungkin pada waktu itu. Tapi entah ada bisikan dan kekuatan dari mana, gw merasa yakin sama apa yang gw jalain, seperti ada sesuatu yang mendorong dan bilang : this is the right thing!
Selain karena sebenarnya ada masalah dengan mantan yang tak terselesaikan.

Dan akhirnyaa,,,,the show then go on...
Gw dan si mas akhirnya berpacaran meski berjauh-jauhan. Gw di jakarta (setelah menyelesaikan kuliah di purwokerto, gw langsung leaving on the jet plane ke jakarta) dan si mas di purwokerto menyelesaikan kuliahnya dan menjalankan usahanya.
nb penting: gw selesai kuliah lebih cepet (4 tahun) dan si mas 6 tahun *bangga* hahahahaha

Dalam waktu 4 tahun itu, kita bisa dibilang jarang banget ketemuan. kadang 3 bulan sekali, bahkan pernah 6 bulan sekali. Tapi telp-telp tiap hari dooongg..

Banyak yang bertanya-tanya, kok bisa ya menjalankan LDR, apa resepnya? Biasanya kalau ditanya gitu gw malah bingung jawabnya.. "yaa...dijalanin ajah" hahahah..standa abiss yaahh...

Sejak awal jadian, memang sebenarnya dia sudah mengajak ke arah serius. tapi gw nya secara mash petakilan binti begajulan, yaa.. gw jawab iya iya ajah... tapi ini otak masih kemana tau. Gak kepikiran sama sekali.

Terus selama 3 tahun pertama gw asik sendiri ama kerjaan jadi wartawan *i love that job very much* plus nyambi kuliah lagi. sibuk, sibuk, ngalahin presiden dah..

Sampai entah pas momen apah, si mamah pernah bilang, kalau mama bakal ngijinin aku nikah dengan 2 syarat:
1. selesein S2 nya
2. Ganti kerjaan, jangan jadi wartawan

syara pertama, ok. syarat kedua, bikin pusing.

why, why, why.....mau kerja apa kalo bukan jadi wartawann??? --> out of context, curhat di lapak lain ajah ya...

dan akhirnya ya,, kita mulai dapat gambaran, berarti nomong seriusnya setelah lulus S2 saja.
Dan dilalah,,, Maha Besar Allah SWT, ya..
Begitu lulus S2, sebelum wisuda malahan, gw diterima di BUMN terbesar di negeri, tempat gw kerja sekarang. Alhamdulillah ya, sesuatu banget....

Jadi, syarat ibu Suri pun terpenuhi.
Dan strategi pun mulai disusun. Diawali dengan si mas yang ngomong ke mama and papa kalau mau serius sama anaknya yang cantik ini, terus dilanjut dengan proses lamaran bersama keluarga besarnya, dan setahun kemudiann.... deng deng...menikahlah kami....hehehe

Dan hari ini, setelah 7 bulan menikah, kami akhirnya merasakan tinggal 1 kota dan 1 rumah. Bukan di Jakarta, bukan di Purwokerto, bukan di Klaten (tempat kelahiran si mas).

Kami sekarang tinggal di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dimana kita bisa mendapat faslitas yang sama dengan Jakarta, namun dengan ambience yang sejuk, kekeluargaan, dan kehidupan yang lebih manusiawi.

So, here we are, living a marriage life. Learning to marry each other, and loving each other..

*kenapa kami bisa terdampar di surabaya, itu juga diceritain di lapak laen ajah ya..*

Kamis, 20 Oktober 2011

long time no see

its been a long long time ago since i dont write on this blog. Mampir sih sering, tapi cuma buat nge link ke blog lain, secara linknya ada di sebelah, hehe..

Jadi, fyi, my current status right now:
1. Just Married on March, 5th, 2011 with a man named Didik Ari Prasetyo :)
2. Moving to Surabaya, the second largest city in Indonesia
3. Work as CSR officer, job that i avioded since the first time i joined the company
4. Finally, living life with him in one city, one home (and one bed of course :) after 4-years-long-distance-relationship

So many stories that i want to share you,
esp how this city impress me so much (Surabaya is HOT!!) and the people, very unique. they let me feel the new ambience of life, the experience of the Sparkling Surabaya.

So see you soon in the next stories from me, :)

Yang suka baca blog ini: