Sabtu, 05 Juli 2014

Ketika Keajaiban Itu Datang (2)

Lanjut ya ceuu...

Jadi ceritanya setelah terkonfirmasi secara medis kalau kami berdua sudah memiliki calon bayi di rahim saya, kami berdua seperti melayang gak percaya. Maklum, sempet nunggu si calon dedek ini datang selama hampir 3 tahun hehehe..

Perubahan pada saya sendiri belum terasa pada trimester pertama. Bahkan pada usia kandungan sekitar 2 bulanan, saya masih sempet mondar mandir ngurus HUT perusahaan dan alhamdulillah baik-baik saja. Padahal temen-temen yang lain dah wanti-wanti supaya saya jangan terlalu jumpalitan.

Baru pada usia kandungan masuk ke bulan ketiga dan keempat, terasa deh mual dan pusingnya. Ini nih,,yang bikin sering telat kantor tiap hari. Karena tiap pagi harus bergulat dengan mual dan pusing itu, jadi berangkat kantor itu cobaan yang beraaaaattt banget.

Transportasi Kantor

Oh iya, awalnya setiap hari saya berangkat dan pulang kantor dengan komuter. Komuter memang transportasi yang paling efisien (saat itu, skrg jadwalnya udah ngaco). Tapi sejak usia kandungan 4 atau 5 bulan, setiap pagi suami bela2in antar ke kantor naik motor. bela2in, karena dengan mengantar saya ke kantor, artinya dia harus menerobos kemacetan dua kali. Saat berangkat dan kembali. Hihihihi...makasih ya sayang,,muah.

Nah, untuk transportasi pulang kerja, pada usia kandungan keempat sampai keenam saya masih mengandalkan komuter. terus dijemput suami di stasiun tujuan. Sampai akhirnya masuk bulan ketujuh, jadwal komuter mulai kacau dan tidak bisa diandalkan. Jadinya transportasi pulang saya pun menyesuaikan. menyesuaikan yang ada saja. Kadang komuter, kadang angkot, kadang taksi.

Baru masuk bulan ketujuh, saat kami diberi rejeki untuk membeli mobil lungsuran, suami memberikan layanan ekstra antar jemput tiap hari. Agak gak tega juga sih karena setiap hari dia harus bergelut dengan macet 4 kali. 2 kali saat berangkat, 2 kali saat pulang. Total perjalanannya bisa sampai 4 jam lebih. Tiap hari.. duhh,,kasian suamiku..

Tapi demi istri dan dedek bayi nya, alhamdulillah kami lancar menjalani semuanya..

Travelling

Nah, kalau soal travelling, dedek bayi ini lumayan hebat dibawa kemana-mana dan tidak rewel.
Mulai di usia kandungan 2 bulan, ketika kami mendapat kabar duka bahwa mbah kakung (kakek) saya dari papa meninggal di Tegal. Saat itu, kami mudik Surabaya - Tegal dengan kereta selama 7-8 jam perjalanan. Kuncinya, jangan sampai kelaparan. Bawa stok makanan yang cukup. Dan makanan buat saya itu ya makanan berat, bukan cemilan ya hehehe... soalnya kejadian pas pulang ke Surabaya dengan kereta juga, jam 2 pagi saya lapar tapi dapur keretanya sudah tutup. OH MY GOD. Saya pun menahan lapar, mual dan pusing, sampai akhir memohon ke pihak dapur untuk disiapkan makanan apa saja. Dan alhamdulillah, masih ada satu porsi nasi goreng tersisa.. rejekimu ya dedek...

Kemudian lanjut di usia kandungan 4 bulan, saya lanjut travel ke Jakarta untuk training. Setelah dapat tanda oke dari dokter, saya pun terbang ke Jakarta dg bekal surat dokter. Aturan Garuda, masih mengizinkan penumpang hamil sampai usia kandungan 35 minggu (CMIIW). Mumpung ke Jakarta, so pasti nginepnya di rumah doong hehehe... Alhamdulillah di trimester kedua ini kondisi saya sudah stabil. Jadi hampir gak ada keluhan. Malah jadi ajang balas dendam untuk makan semua makanan kesukaan saya di Jakarta. You name it, nasi uduk, nasi bebek, bakso depan rumah, ketoprak, gado-gado, SEMUANYA. Ho ho ho ho..

Pada usia kandungan 6 bulan, saya berkesempatan ke Bali karena ada rapat kordinasi se Indonesia. Jadilah saya berangkat ke Bali bersama atasan saya dan alhamdulillah semuanya juga berjalan lancar. Apalagi terbang ke Bali jauh lebih singkat ketimbang ke Jakarta.

Travelling masih lanjut di usia kandungan 7 bulan, saya mengambil cuti seminggu untuk acara nujuhbulanan di Klaten. Kali ini kami menjajal kemampuan suami menyetir mobil. Jadi kami ke Klaten dengan kendaraan pribadi selama kurang lebih 9 jam dari Surabaya (termasuk istirahat). Lucunya, karena kandungan sudah lumayan besar, jadi saya juga sudah beseran. Rasanya seperti petugas inspeksi SPBU, karena saya selalu minta berhenti di toilet SPBU hampir tiap kabupaten/kota yang kami lewati. Oh iya, jangan lupa bawa bekal juga yaa,,karena kalau lapar di jalanan belum tentu bisa langsung ketemu tempat makan yang oke.

Setelah dari Klaten itu, saya lanjut travel yang agak deket, yaitu ke Tuban. Lumayan cuma 4 jam dari Surabaya. Waktu itu kebetulan saya masih handle event perusahaan di Tuban. Karena kebutuhan persiapan dan kondisi hamil, saya berangka H-1. Kalau biasanya jarak segitu dihajar dengan PP alias Pulang Pergi 1 hari hehehe..

Travelling yang terakhir adalah kembali ke Jakarta. Kali ini dalam rangka liburan dan memanfaatkan poin GFF yang bisa di redeem dengan 1 tiket PP Surabaya-Jakarta. Jadi tinggal beli tiket untuk suami.Tapi namanya beli tiket garuda sendiri, kerasa ya booo... untung waktu itu baru aja dapat bonusan kantor hehehehe... rejekinya dedek ditemenin ayahnya..

Nah..demikian cerita episode 2,,
bersambung lagi yaaa..pegel tenan rek...

Kamis, 03 Juli 2014

Ketika Keajaiban Itu Datang (1)

Postingan ini bakal puanjjaaangg.. so be prepared yaa.. you've been warned..

Cerita ini lebih seru diawali sejak atasan saya ganti sekitar medio 2013. Sama-sama cewe dan powerfull, tapi sejak bulan pertama gabung di satu tim, ia langsung menanyakan mengenai program kehamilan saya. Atau lebih tepatnya seperti menginstruksikan, agar saya fokus pada program kehamilan.

Saya menikah 5 Maret 2011, jadi pada saat bos saya ganti itu, sudah sekitar 2 tahun lebih saya dan suami menanti kehadiran dedek bayi. So far sih, kami berdua masih enjoy2 saja hidup berdua. Cuma saya udah mulai agak maless kalau ditanya-tanya keluarga besar yang rasanya seperti dituduh karena saya kecapean atau terlalu sibuk bekerja. Katanya karena keseringan dines luar kota (woong akunya senenng malah kalau diness wkwkwk).

Oke, back to my boss.. Nah, doski ini feelingnya kuat banget. Sampai suatu ketika, sekitar bulan Oktober, tiba-tiba dia bilang "Lih, kayanya kamu hamil deh". Saya yang gak ngerasa apa-apa ya..cuek-cuek aja. "Kalau bener ya alhamdulillah, kalau gak ya nda papa," pikirku.

Terus pada suatu Sabtu/Minggu sore di akhir Oktober atau awal November, saya lagi nemenin suami hunting tanaman di sekitar Bandara Juanda. Entah kenapa, pas lagi nemenin itu, saya merasa gak enak badan, pusing dan mual. Jadi terpaksa nunggu sambil duduk di bawah pohon plus nahan muntah.

Beberapa hari kemudian, setelah meyakinkan sang suami, akhirnya kami membeli sejumlah test pack. Sejumlah ya,,,jadi ada beberapa merek gituu hehehe. Kepo soalnya, hahaha...
Paginya saya langsung test di kamar mandi, dan langsung takjud tak percaya, ketika ada dua garis di test pack. Saya langsung ngabarin suami, dan kita baca berulang-ulang petunjuknya untuk make sure kami gak salah tafsir hehehe...lucu kalau inget momen itu..

Setelahnya kami cuma bisa tatap-tatapan dan tersenyum.. Alhamdulillah, penampakan dua garis itu ternyata bisa bikin sebahagia ini..

Supaya afdol, tentu kami harus periksa ke dokter. Berhubung RS rujukan kantor ada di RS Husada Utama, kami pun mencari dokter obgyn yang sesuai jadwalnya. Nah, yang cucok jadwalnya dr. Didi, yang ternyata juga menjadi dokter temen-temen sekantor, wkwkwk..

Suka banget sama dokter ini karena selalu menenangkan dan santai. Jadi kami berdua yang sama-sama tidak berpengalaman jadi ikutan rileks..

Nah, berdasarkan hasil pemeriksaan perdana, ternyata harapan kami terkabul. Sudah ada janin kami yang tumbuh sekitar 4 minggu di rahim saya. Memang belum kelihatan bentuk janinnya, tapi rahimnya sudah terlihat membesar. Kemungkinan baru bulan berikutnya terlihat bentuk janin.

Rasa syukur dan bahagia gak keruan kami rasakan. Rasanya kaya melayang, ini beneran gak yah? beneran gak yah? Hehehee...

berlanjut yaaa... *pegel euy*

Kamis, 05 Juni 2014

Rumah Pertama Kami


Oke, bapak dan ibu sekalian. Setelah sebelumnya sudah cerita tentang pertimbangan-pertimbangan memiliki rumah, akhirnya kami memutuskan untuk membeli rumah perdana kami. yup, properti perdana kami.

Letaknya di Surabaya coret, hehehe. Lumayan jauh dari kantor, tapi berkat pengalaman di Jakarta, jarak segini mah masih bisa dijabanin deeehh... *lap keringet*

Alasan kami berdua untuk akhirnya menjatuhkan pilihan ke rumah ini adalah:
1. Aku suka model dan desain ruangannya. (maklum, orang visual)
2. Si mas cocok sama kualitas bangunannya
3. Luas bangunan 60 m2 dan luas tanah 121 m2, sangat cukup untuk kami
4. Harga terjangkau (kuras tabungan + cicil 10 tahun)

Sementara yang bikin mengkeret milih rumah ini adalah:
1. Jaraknya yang nun jauh disanaa.. (di tepi tol surabaya-malang). Malah salah satu temen yang pernah berkunjung bilang, lokasinya kaya tempat jin buang anak (kayanya dia udah tahu ada jin buang anak kali yaa)
2. Akses menuju komplek jalannya tidak terlalu besar. Kalau papasan dua mobil mefffeeettt

Tapi berdasarkan berbagai pertimbangan dan perbandingan dengan tempat lain (ada yang lokasi lebih dekat tapi harga lebih mahal dan kualitas bangunan lebih jelek), akhirnya kami memberanikan diri membeli rumah tersebut.

Alhamdulillah,,,semoga rumah ini menjadi berkah untuk kami berdua. Amieenn..

Jadi? Pindahaan dooong?
JELAS TIDAK.

Baru memutuskan beli rumah ternyata merupakan satu tahap awaaaal bangeett. Karena habis itu kita harus mengurus administrasi (down payment, biaya pajak ini itu, bla bla bla) yang beneran menguras tabungan. Sampai pernah dana di tabungan tinggal 400 rebu, padahal masih seminggu lagi gajian hohoho #kok bangga?

Perjuangan pun tidak terhenti sampai di situ.

Sembari mengurus administrasi dan bayar membayar, proses pembangunan rumah pun dimulai. Ealaaahh...kirain bisa langsung pindah ya booo. Dan pembangunan rumah yang awalnya diiming-imingi 5-8 bulan pun akhirnya selesai dalam 12 bulan. Hahaha,,,namanya juga janji manis yaa..

Ngawasin pembangunan rumah ini juga penuh amarah dan air mata lho. Beneran!

Secara kita udah bayar ratusan juta untuk rumah itu (lewat bank yang nalangin), wajar dong kalau kita mau rumah yang tanpa lecet. Tembok lurus mulus, atap gak pake bocor, tembok gak pake rembes, dll.
Nah, kalau sudah hal seperti ini, Si Mas yang perfeksionis bakal maju ke depan #ayo jenderal!

Setiap sabtu/minggu kita tengokin proses pembangunan rumah. Hampir selalu kita bawain rokok/snack/nasi bungkus buat tukang-tukang yang lagi kerja. Terus sambil santai, Si Mas ngobrol sama tukang2nya. Pada saat itulah Si Mas negesin kalau kita GAK MAU ada hasil kerjaan yang salah. Gak cuma ke tukangnya, tapi juga ke mandor dan marketingnya. Dari awal pokoknya sudah kita wanti-wanti, kalau hasilnya gak bagus, akan kita suruh ulang ngerjain.

Itu cara halus yaa...ngingetin di awal..
Dan begitu setengah jadi ternyata banyak yang tidak memuaskan, naik pitamlah kita, hohohooo...
Kita tandai semua hasil pekerjaan yang tidak memuaskan dan memang salah besar ngerjainnya (kaya tembok gak siku, ngerembes, bocor, dll) dan kita laporkan ke semua (tukang, mandor, marketing) kalau kita minta itu diberesin. Bahkan Si Mas sampai janjian dengan mandornya untuk ikut ngawasin proses pekerjaannya.

hihihii...mungkin baru kali ini ada customer yang cerewet banget kaya kita yah,,
Prinsip kami, mending lama di depan, daripada saat ditempatin nanti malah nyusahin.

Alhamdulillah, walau akhirnya proses pembangunan mundur hingga 12 bulan (sekitar 4 bulan terlambat) dan kami harus memperpanjang kontrakan hingga 2 bulan lagi, rumah perdana kami ini sangat nyaman dan aman ditempati. Alhamdulillah saat masuk musim hujan gak pake bocor-bocor dan remebesan atau retak-retak di tembok.

Alhamdulillah, kami secara resmi menempati rumah ini bulan Agustus 2013 (setelah Idul Fitri) sampai sekarang. Tetangga kanan kiri mulai ramai, dan lahan kosong depan rumah sudah ludes dan sedang pembangunan. Kompleks yang dulu kami survey hanya lahan garing, kini sudah mulai membentuk organisasi baik arisan untuk ibu-ibu dan keamanan utk bapak-bapak.

Semoga rumah ini membawa berkah dan ridho bagi kami sekeluarga. Amin.

Bunga kuning yang ada di setiap depan rumah. Gak tahu kenapa suka sama bunga ini, hehehe

Rumah kami tampak depan. Ini sudah dikasih pagar batu, alhamdulillah sekarang sudah dikasih carport dan pagar besi. (Padahal aku sendiri lebih suka tanpa pagar, tapi apa daya kasian si city kalau gak di kasih carport dan dipagerin)


Teras, salah satu spot favorit duduk sore/malem sambil ngobrol plus nyemil hehehe. Taman depan sekarang sudah nambah beberapa bunga, termassuk kamboja merah. Di samping ditambah kamboja kuning.


Ruang tamu. Semua furnitur diangkut dari Klaten. hohoho. Selera desain tentu selera Si Mas..


Another favorite spot. Sofa depan tipiii.. empukkk dan pas buat berdua hehehe


Pintu masuk samping dan singgasana Si Mas. Karena deket dispenser, jadi mas skrg jarang lupa minum kalau lagi kerja hehehe


Kalau ini singgasanaku...alias dapur mungil yang cuma 2x1,8 m. Tapi alhamdulillah skrg lumayan produktif.


Area pembersihan, buat cuci-cuci dan jemur kalau hujan (atasnya sudah dikasih atap). Tapi di seberangnya ada tempat serupa tanpa atap untuk jemur ke matahari langsung



Penampakan dari belakang. Meja makan itu sekarang sudah diputar supaya aksesnya lebih mudah.

Sementara demikian laporan rumah perdananya. Yang kamar, karena area private jadi gak ditampilin yaa #alesan padahal berantakan.

Semoga cerita ini bisa jadi memory untuk selanjutnya..

Oh Yeaay

oooohhh yeaayy...
it's been a looong looong time no seee yaaa..

Sudah luama banget gak nengok blog sendiri, padahal rajin banget nengokin blog orang lain.
Dan semenjak postingan terakhir sekitar 9 bulan yang lalu ituu... so many things happened dan belum sempet diceritain yahh...

Tapi kudu sabar dicicil satu-satu ya,,,
Bismillahirohmanirrahiim...
Mari kita mulai dengan,,, postingan selanjutnya!

*linting baju*

Yang suka baca blog ini: