Minggu, 06 Januari 2008

Cerita Teman Lama Yang Tiada Akhir

hari ini saya bertemu seorang kawan lama. dulu kami sering main bareng karen arumah yang berdekatan meski sekolah kami selalu berbeda. namun jarak makin memisahkan ketika usai SMU saya melanjutkan kuliah di purwokerto dan dia memutuskan langsung kerja.

"ngapain kuliah, ngabisin duit, mending kalau duitnya ada. Mendingan kerja, malah bisa ngehasilin duit," katanya.

saya tidak bisa berkata apa-apa saat itu karena memang keluarga dia bukan tergolong yang mampu sangat mampu secara finansial. ditambah lagi, tak ada budaya kuliah dari keluarganya secara turun menurun. dari empat kakaknya (dia anak bontot), semua langsung kerja begitu menyelesaikan SMA.

Singkatnya, saya kuliah di purwokerto dan dia kerja di sebuah hypermarket di jakarta selatan (sangat jauh dari daerah rumah kami di pulogadung). dia rela berangkat subuh jika kebagian shift pagi, atau pulang tengh malam kalau dapat shift sore.

sementara saya, bergulat dengan kuliah, diskusi-diskusi ala mashasiswa, kegiatan UKM (unit kegiatan mahasiswa, dan lain-lain.

Jauh berbeda dengan yang dialami teman saya itu.

Setiap bulan dia sudah punya penghasilan, bahkan menanggung biaya telepon dan listrik di rumahnya karena orang tuanya juga sudah mulai tua. Sementara saya, masih menengadahkan uang pada orang tua.

Kehidupan kami begitu berbeda, bahkan soal pacar. Sepanjang kuliah saya hanya pacaran dengan satu orang, emski saya kenal banyak lelaki. Sedangkan dia, tak terhitung berapa lelaki yang digandengnya. ada yang sekedar teman nonton, teman antar jemput, teman curhat, dll. orangnya pun beragam. ada teman selevel, atasan, atasan teman, teman atasan, temannya teman, orang yang kenal di jalan, dan banyak lagi. saya akui ia memang supel.

Sampai kira-kira di semester lima atau enam saya kuliah, ia menyatakan akan segera menikah. terus ternag saya tak begitu kaget. kaena setelah bertahun-tahun dia kerja, mungkin tak ada lagi yang dicarinya.

Dalam benak saya pun membayangkan calon suaminya minimal adalah teman kerjanya. keduanya sudah punya penghasilan tetap, dan bisa hidup mapan meski pas-pasan.

betapa kagetnya saya ketika tahu calon suaminya hanya seorang pengatar bunga yang gajinya sepertiga gaji teman saya itu. lalu saya tanya, kenapa dia ingin menikah dengan lelaki itu?

dia menajwab, "dia baik, mau nganter jemput gw berangkat dan pulang kerja. mau nganterin keman aaj meski sampai malam. belum ada cowok yang begitu ke gw. pengorbanannya lebih dari cukup," katanya.

kemudian ia melanjutkan," lagian, gw nyari apalagi sih, gw dah capek pacaran mulu. putus mulu. susah cari cowok yang baik. mumpung ketemu cowok gw ini, kayanya dia baik, ya udah, nunggu apa lagi,?" katanya santai.

saya hanya bisa mengangguk. tak bisa berkata apa-apa. tak mungkin saya membantahnya dan bilang "kayanya alasan itu aneh, gak cukup kuat,".
mungkin jika berada di posisinya, tidak ada lagi alasan yang lebih rasional.

dan akhirnya mereka pun menikah. dengan acara seadanya. tapi sepertinya mereka bahagia. sepertinya.

saya pun kembali ke purwokerto, kuliah lagi. setelah saya lulus, dan putus dengan pacar saya, saya kembali ke jakarta. saat itu teman saya ini sudah hamil. meski kami kembali bertetangga, tapi kami jarang bertemu.

sampai kemudian ia melahirkan, baru saya menemuinya, sebelum dan sesudah melahirkan saya menjenguknya.
mereka dianugrahi seorang bayi lelaki yang mirip ibunya.

beberapa lama setelahnya, tak sengaja saya bertemu dengannya usai membeli sesuatu dari warung. kemudian ia bercerita. bukan kisah gembira karena telah dianugrahi seorang anak lucu, melainkan kisah pilu mengenai tingkah laku suaminya.

ternyata sejak ia hamil tua, kondisi rumah tangganya sudah tidak harmonis. dan itu berlanjut hingga saat ia bercerita, bahkan lebih parah. saya menilanya begitu karena teman saya yang biasanya gempal, apalagi habis melahirkan, menjadi kurus hingga tulang lehernya menonjol.

suaminya ternyata lebih sering bermain keluar bersama teman-teman geng motornya. touriing ke luar kota hingg aberhari-hari. meninggalkan anak istri dan pekerjaannya. padahal sebagian pekerjaannya dibayar per hari tiap i amasuk kerja. alhasil pendapatan keluarga kecil itu berkurang.

tapi teman saya saat itu tidak mempermasalahkan uang, karena ia bekrja dan punya uang sendiri. justru karena punya uang sendiri dan sering ditinggal suami, ia merasa suaminya tidak menghargainya lagi. dirumah mereka jarang bertegur sapa, apalagi mereka masih tinggal di pondok mertua indah, tapi suaminya bahkan tidak pernah menegur mertuanya.

di saat harus menelan perasaan pahit itu, ia harus tetap mengurus buah hatinya, karena suami hampir tak pernah peduli. sampai-sampai ia menuturkan niatnya untuk cerai karena ia merasa bisa hidup sendiri. lebih lagi, selama ini ia merasa lebih banyak menipang keluarg kecilnya itu.

mendengarnya, saya hanya iba, tapi tak bisa bantu apa-apa. masa saya harus mencarin suami atau membantu memborgol si suami itu agar tidak keluyuran lagi? apalagi saya tidak bisa memberika nasihat-nasihat bagaiman sabar menghadapi suami untuk menjaga keutuhan keluarga. karena saya belum pernah punya suami atau berkeluarga. masa saya memberi nasihat yang belum teruji keabsahannya...

waktu pun berlalu, kami kehilangan kontak lagi, karena ia lebih sering berada di rumah mertuanya.

dan hari ini, kami bertemu kembali, makan bersama, bercerita kembali.

sebelum berangkat, saya menjemput ke rumahnya, melihat ia berpamitan dengan mencium sang suami, saya beranggapan masalahnya sudah selesai.

tapi saya tidak jadi menyimpulkan demikian setelah mendengar ceritanya lagi.

ternyata, saat dulu ia hamil dan suaminya sering berpergian, disebabkan karena teman saya itu sering kasar hingga main tangan. jika merasa kesal atau jengkel, ia kerap memukul dan menampar suaminya.

sementara, di tempat suami itu bekerja, ada seorang gadis yang justru sangat amat penyabar. di sinilah si suami mendapat ketenangan yang tidak didapat dari isitrinya. bahkan ternyata si gadis ini sudah punya pacar. namun si pacar gadis tipe lelaki yang tidak memperhaikan penampilannya. sehingga terlihat tua dan tidak gaya sama sekali. berlawanan dengan suami teman saya yang selalu gaya baik pakaian ataupun motornya meski tidak punya uang.

akhirnya kedua insan yang masing-masing sudah punya pasangan ini terbuai. hingga ada kabar mereka akan menikah di Bandung.

teman saya pun tak kuasa, menangis tiap saat, sampai-sampai pihak keluarga si suami mengultimatum anaknya untuk segera pulang.

menurut teman saya, saat didera masalah yang sangat berat itu ia bercerita dengan seorang temannya. temannya itu menyarankan teman saya untuk banyak sholat hajat dan meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh.

akhirnya, karena tak kuasa menahan malu, si suami pun keluar dari tempatnya bekerja, dan kembali ke keluarganya. istrinya, yaitu teman saya, jug amengintropeksi diri. tak pernah lagi ia marah-marah hingga memukul. jika merasa kesal, ia memilih diam atau tidur.

dan keluarga mungil ini pun kembali bersatu.

tapi ada satu masalah tersisa. hingga kini, sudah 3 bulan suaminya menganggur setelah keluar dari pekerjaannya dulu. mereka hanya hidup dari gaji teman saya yang tidak banyak itu. (kira-kira setengah gaji saya lebih sedikit). belum lagi, teman saya tetap harus menopang kedua orang tuanya yang sudah tidak kerja lagi. karena kakaknya tinggal jauh dari orang tuanya.

sebenarnya bukan tanpa usaha. teman saya pernah mencoba memasukkan suaminya di tempat ia bekerja. teman saya sudah berusaha menitipkan suaminya pada kenalan yang memang berwenang menerima pegawai. kenalannya setuju asal suami teman saya lulus tes.

hasilnya? dari 50 soal pengetahuan umum, dia hanya bisa mengerjakan 15 soal.

"otaknya pas-pasan," keluh teman saya.

dan kini, mau tak mau teman saya berjibaku dengan gajinya untuk menghidupi mulut-mulut yang harus ia kasih makan. saat teman saya bekerja, suaminya dengan manis duduk di depat play station menunggui anak mereka tidur. pulang kerja, teman saya harus memandikan anaknya, mencuci baju mereka, dan kerjan ibu-ibu lainnya. suaminya tetap duduk manis dengan mainannya. mau cari kerjaan lain, susah karen astatusnya yang sudah menikah dan punya anak. selain otak pas-pasan,pengalamannya pun minim, hanya tukang bunga.

"kalau dulu masalah hati, uang gak masalah. sekarang masalah hati selesai, uang yang jadi masalah,"

"laki gw tuh gak punya penghasilan, tapi gayanya selangit. dia gak ekrja tapi pengin motornya keren terus. boro-boro dia mikirn susu anak gw, yang dipikrin ban motor lah, oli motor lah. pusing gw," keluhnya.

"emang sih kata orang, yang namanya menikah kalau belum lima tahun, pasti banyak ujiannya. dulu laki gw kegaet cewe lain. sekarang malah ada cowo yang lumayan tajir, ngedeketin gw. dia malah nyuruh gw cerai, dan dia bersedia nerima gw dan anak gw,"

well,,,,gimana lagi ya babak kehidupannya?

Tidak ada komentar:

Yang suka baca blog ini: