Jumat, 08 Februari 2008

Pekerja Malam











Hidup ini memang kejam, bagi sebagian orang.
Larut malam bukan berarti tanda untuk beristirahat.
Langit gelap justru petanda bagi segelintir warga Jakarta untuk mulai mengais rejeki.
Meski badan sudah renta, melihat pun sudah pudar -apalagi dimalam hari-, dua lelaki yang saya temui di pinggir jalan dekat rumah menyadarkan saya.

Betapa Allah memudahkan saya dalam mencari rejeki. Saya bisa menjalani pekerjaan yang saya suka, yang memang cita-cita saya dari kecil. Kalaupun harus pulang malam, saya masih bisa menjalani dengan biasa saja. part of job. Imbalannya pun lumayan, tidak membuat pusing 7 keliling di akhir bulan. Dan yang pasti pekerjaan saya membuat saya lebih peka, lebih perhatian pada sekeliling saya -karena dituntut demikian- termasuk pada kedua bapak-bapak ini.

Yang satu adalah pemanggul bakul sekoteng yang terus berjalan mencari orang yang mau membeli dagangannya. Padahal sekoteng sekarang ini bukan makanan favorit dibanding fast food yang bisa delivery service.

Sementara yang satu lagi merupakan penjual sayuran. entah apa yang ada di benaknya kok dia menjual sayuran mulai malam hari, di pinggir jalan, sendirian (gak ada penjual lainnya), sayurannya pun cenderung sudah layu sehingga jarang yang beli.

Tapi tentu dibalik itu semua ada yang membuat setiap orang yang melihatnya malu. Terutama yang masih muda seperti saya, yang sering mengeluh karena pekerjaan. malu pada mereka yang masih bekerja tanpa mengeluh, atau karena tak ada pilihan lain, meski harus menerjang dinginya malam...

Brrrrrrrrrr.....
padahal baru turun hujan, dan kemarin baru banjir.....

Tidak ada komentar:

Yang suka baca blog ini: