Sayangku, sudah ratusan kali kau melamarku. Lamaranmu itu seringkali kujawab dengan rasa bimbang. Bimbang karena hati ini sebenarnya juga tak sabar menjadi pendampingmu, tapi apa daya.
Masih banyak mimpi mamaku yang harus dipenuhi. Masih banyak cita-cita beliau yang ingin aku realisasikan. dan itu semua butuh waktu.
Sayang, aku ingin kamu bersabar, bersabar menungguku, sampai tiba saatnya nanti. Saat mama dan papa bisa dengan rela melepasku ke sisimu.
Sayang, beribu rinduku ingin berdamping denganmu, tapi harus kubendung. Bukan hanya karena kita jauh, tapi juga karena tahu bahwa masih butuh waktu (cukup lama) agar aku bisa menjadi halal bagimu.
Aku tahu, saat ini menikah menjadi wajib hukumnya bagi kita. Namun menikah bukan hanya sebatas hubungan dua individu, melainkan ada keluarga yang harus disatukan.
Aku ingin saat kita meraih bahagia nanti, itu adalah bahagia seutuhnya, dengan restu tulus dari orang tuaku dan orang tuamu. Saat kita sudah bisa menemukan waktu dan posisi yang nyaman bagi kita untuk bersatu.
Untuk itulah, aku harap kamu mau sabar menunggu. Kamu mau ya? ya?
Karena kalau bukan kamu, aku tak terbayangkan ada sosok lain yang bisa menjadi pendampingku dan bisa aku dampingi.
Sayangku, hanya kamu.
Muahh, Pengembaraku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar